Kirim Satelit Tak Pakai Roket, Perusahaan Ini Kembangkan 'Ketapel' Luar Angkasa
SpinLaunch, sebuah perusahaan luar angkasa melakukan inovasi peluncur satelit. Menariknya, peluncur yang mereka ciptakan tak gunakan roket seperti pada umumnya. Peluncur yang dibuat seperti ketapel raksasa dan betul-betul menggunakan energi kinetik.
SpinLaunch, sebuah perusahaan luar angkasa melakukan inovasi peluncur satelit. Menariknya, peluncur yang mereka ciptakan tak gunakan roket seperti pada umumnya. Peluncur yang dibuat seperti ketapel raksasa dan betul-betul menggunakan energi kinetik.
Model peluncurnya menggunakan tabung peluncuran besar yang diklaim mampu melontarkan muatan 8.000 km/jam dan 10.000G. Sistem ini bekerja dengan menempelkan roket ke lengan raksasa yang berputar dan memutarnya beberapa kali kecepatan suara.
Kemudian dilepaskan dan ditembakkan ke luar angkasa. Setelah itu, ‘roket’ yang diterbangkannya itu akan kembali ke Bumi untuk digunakan kembali. Teknologi bertenaga energi kinetik dipandang sebagai alternatif yang ramah lingkungan.
Lantas, apakah cara ini benar-benar bisa digunakan?
Dilaporkan Gizmodo, Senin (13/3), tes pertama pernah dilakukan dengan ketinggian 108 kaki atau 33 meter. Uji coba ini dilakukan di Spaceport America di gurun New Mexico. Tes yang diterapkan ternyata menarik perhatian investor, anggota industri kedirgantaraan, Departemen Pertahanan, Keamanan Dalam Negeri, dan NASA.
Energi kinetik berfungsi sebagai mesin tahap pertama sistem yang sebenarnya untuk mengeluarkan benda dari tanah. Sebuah lengan berputar dengan cepat di dalam ruang centrifuge bersegel vakum, memutar kendaraan peluncuran ke kecepatan supersonik sebelum melemparkannya ke atas langit.
Hingga saat ini, SpinLaunch telah melakukan 10 tes sejak Oktober 2021, termasuk satu pada 27 September 2022, di mana SpinLaunch meluncurkan Test Launch Vehicle yang dikemas dengan muatan demonstrasi untuk NASA, Airbus, Universitas Cornell, dan produsen satelit Outpost Space. Hasilnya, muatan yang dibawa peluncur mampu bertahan dari kecepatan lontaran tersebut.
"Sebagian besar tantangannya adalah membuktikan bahwa apa yang ingin kami lakukan adalah realistis, tetapi ada juga tantangan untuk benar-benar membangun perusahaan yang dapat melakukannya, dan di situlah sebagian besar pekerjaan dilakukan," kata Maxim Clarke, seorang senior insinyur sistem di SpinLaunch.
"Kami sedang membangun perusahaan yang membangun mesin akselerator raksasa dengan sedikit atau tanpa warisan teknik yang ada di dalamnya," jelas Maxim.
Perusahaan berencana untuk menjalankan lebih banyak penerbangan demonstrasi dengan A-33, diikuti dengan pembangunan akselerator orbit skala penuh. Secara ambisius, tim berharap untuk melakukan peluncuran orbit pertamanya dan berpotensi mulai membangun konstelasi satelit pada 2026.
"Sebagian besar dari engineer kami dialokasikan untuk membangun komponen pesawat ruang angkasa yang kompatibel dengan SpinLaunch. Tapi semuanya dimulai dengan akses murah ke luar angkasa," jelas dia.
(mdk/faz)