Ilmuwan Dunia Pernah Uji Coba Narkotika, Ada yang Demi Memahami Pasien Sakit Jiwa
Berikut adalah ilmuwan-ilmuwan yang pernah melakukan uji coba dengan mengonsumsi narkoba.
Bagi banyak negara, mengonsumsi narkotika adalah tindakan ilegal. Terdapat ancaman bagi warganya yang diketahui menggunakan barang haram. Bila saat ini dilarang, lain hal dengan zaman dulu.
Menurut seorang penulis dan sejarawan budaya Mike Jay, beberapa ilmuwan yang ia ketahui pernah melakukan eksperimen dengan zat-zat berbahaya itu. Kata Jay, setelah melakukan uji coba, mereka pun teler.
Dilansir ABCNews, Rabu (7/6), berikut adalah ilmuwan-ilmuwan yang pernah melakukan uji coba dengan mengonsumsi narkoba:
Sigmund Freud (1880)
Freud, yang mendukung penggunaan kokain pada tahun 1880-an, membuat zat tersebut menjadi obat kesehatan yang sedang populer.
"Freud menulis makalah yang menjelaskan apa efek dari mengkonsumsi kokain. Dia mendasarkan pernyataannya berkat eksperimennya sendiri," terang Jay.
Eksperimennya tersebut mengangkat Freud menjadi advokat yang mendukung penggunaan kokain dalam perusahaan farmasi. Namun, Freud tidak menyadari bahwa penggunaan kokain yang berlebihan dapat menimbulkan dampak yang cukup mengerikan.
"Ketika beberapa tahun kemudian penggunaan kokain mulai dalam dosis besar dan berdampak sangat buruk bagi manusia, maka orang-orang mulai menyalahkan Freud," kata Jay.
Sir Humphry Davy (1799)
Tidak hanya Freud yang pernah viral karena eksperimen narkotikanya, kejadian ini juga dialami oleh Sir Humphry Davy, yang menjadi terkenal setelah bekerja sebagai ahli kimia di laboratorium gas di Bristol tahun 1799.
Di tempat kerjanya itu, Davy mulai bereksperimen dengan dinitrogen oksida, yang juga dikenal sebagai gas tertawa.
"Dia menghirup sedikit dan menemukan sensasi yang agak menyenangkan, dia merasakan pikirannya melayang, sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya," kata Jay.
Karena eksperimen yang dilakukan Davy itu, dinitrogen oksida mampu bertahan selama 200 tahun sebagai salah satu gas yang digunakan untuk obat penenang secara medis.
James Young Simpson (1847)
James Young Simpson, seorang ahli bedah yang turut bereksperimen dengan semua jenis gas dan pelarut yang berbeda, termasuk kloroform, pada tahun 1847.
Simpson bereksperimen bersama teman-temannya dan mendapatkan dampak yang cukup membuat mereka tidak sadar setelah menghirup kloroform. Karena eksperimennya ini, Simpson berani menggunakan kloroform sebagai obat penenang atau bius pada saat Ratu Victoria melahirkan.
Jacques-Joseph Moreau (Pertengahan abad 19)
Pada pertengahan abad ke-19, seorang dokter residen rumah sakit jiwa, Jacques-Joseph Moreau, tertarik melakukan eksperimen terhadap ganja untuk mengetahui apakah zat tersebut bisa membantunya memahami posisi para pasiennya yang menderita gangguan jiwa.
Hasilnya, Moreau percaya ganja mampu membuat para dokter jiwa merasakan apa yang dialami para pasien mereka, yang membuatnya merekomendasikan ganja kepada dokter lain.
"Moreau berkata ‘kami mencoba memahami kondisi pasien, namun itu sulit. Tapi ganja dengan dosis besar mampu membuat hal itu terjadi dan bisa mengembalikan kami ke kenyataan dengan aman'," ungkap Jay.
Meskipun banyak ilmuwan yang berhasil melihat sedikit sisi positif dari keberadaan zat-zat terlarang ini, namun hasil penemuan obat mereka tidak bertahan lama.
Sekitar awal abad ke-20, banyak obat dari hasil eksperimen para ilmuwan ini akhirnya mendapat larangan penggunaan, karena memicu kecanduan bagi si pengguna.
Reporter magang: Safira Tiur Margaretha