Haruskah Nokia merilis produk phablet atau tablet?
Tidak banyak produk tablet atau phablet berbasis Windows Phone yang sukses di pasaran.
Walaupun Nokia membantah bahwa mereka sedang dalam penggarapan produk tablet dan phablet, namun apabila rumor yang beredar benar, beberapa investor mereka sedikit meragukan apakah nantinya produk tersebut mampu angkat Nokia.
Seiring dengan maraknya berita mengenai produk tablet dan phablet dari Nokia, perusahaan asal Finlandia ini menepis hal tersebut dengan mengatakan, "Sungguh tidak masuk akal, kenapa kita harus memproduksi tablet?"
Akan tetapi, apabila rumor yang beredar benar, apakah nantinya produk-produk tersebut mampu angkat posisi Nokia dari urutan 3 besar dunia ke urutan 2 atau bahkan posisi pertama?
Mengutip dari ulasan di Seeking Alpha (19/08), beberapa pihak tidak yakin bahwa dengan merilis produk tablet atau phablet dengan platform yang lain merupakan langkah yang tepat.
Walaupun nantinya Nokia akan merilis produk dengan prosesor Qualcomm Snapdragon, Quad-Core atau melengkapinya dengan internal storage berkapasitas 32GB atau lebih atau lainnya, namun bukan hal tersebut yang sedang dibutuhkan oleh banyak pengguna mobile dunia.
Dapat diambil contoh, ketika Microsoft pertama kali merilis Windows Phone untuk smartphone sampai tablet, banyak perusahaan yang juga menggunakan Android untuk produknya, berebut ingin menggunakan operating system tersebut dalam perangkat baru mereka.
Vendor-vendor mobile tersebut antara lain, Samsung, Dell, Hewlett Packard sampai dengan Toshiba seakan berlomba menawarkan produk dengan platform lain.
Namun, dari banyaknya produk berbasis Windows Phone tersebut, tidak sedikit yang akhirnya hanya menjadi penyemarak pasar mobile saja.
Tentunya hal ini disebabkan dengan banyaknya produk serta masih berjayanya Android di pasaran. Tidak hanya itu, banyak pengguna mobile yang lebih tertarik untuk gunakan produk berbasis platform besutan Google tersebut daripada milik Microsoft.
Dengan hadirnya pemikiran seperti itu, tentunya Nokia juga akan berpikir dua kali untuk membuat tablet atau phablet ketika produk smartphone mereka belum dapat menarik banyak minat pengguna mobile dunia.
Memang segalanya adalah gambling, namun setidaknya dibutuhkan pemikiran matang agar nantinya produk yang dirilis dapat menghasilkan dan tidak membuang-buang dana yang dialokasikan.(mdk/das)