LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. TEKNOLOGI

Fenomena El Nino panaskan bumi hingga puncaknya

Bulan lalu ternyata menjadi yang terpanas sepanjang sejarah manusia

2014-06-24 20:00:00
Teknologi
Advertisement

Negara-negara yang terletak pada garis ekuator seperti Indonesia terkenal mempunyai iklim yang lembap dan panas. Hal tersebut ternyata diperparah dengan munculnya fenomena El Nino yang cukup menggila tahun ini.

Badan Pemantau Laut dan Atmosfer Amerika, NOAA, senin kemarin (23/06/14) melaporkan jika suhu rata-rata bumi pada bulan Mei yang lalu menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah, terutama di daerah-daerah di garis khatulistiwa. NOAA mengungkapkan jika suhu bulan Mei lalu mencapai 15 derajat Celsius, mengalahkan rekor terpanas empat tahun yang lalu, Daily Mail (23/6).

Peningkatan panas bumi secara ekstrim diyakini disebabkan oleh fenomena El Nino yang belakangan terus meningkat. El Nino adalah keadaan perairan di sekitar khatulistiwa (khususnya sebelah timur samudra Pasifik) yang menjadi lebih panas dibanding biasanya. Saat El Nino terjadi air di daerah tersebut mengalami kenaikan suhu hingga 3 derjat Celsius.

Advertisement

Ketika El Nino semakin memanas, maka akan semakin banyak udara panas dan uap air yang akan dilepaskan ke udara sehingga mempengaruhi pola cuaca hingga iklim dunia. Oleh karena itu, suhu pada bulan Mei kemarin suhu bumi diperkirakan meningkat 0,74 derajat Celsius lebih hangat dari suhu rata-rata abad 20.

Para ilmuwan di dunia juga menegaskan jika ini adalah bukti jika pemanasan global belum berhenti, malah cenderung mengalami peningkatan. 

"Seharusnya rekor suhu bulan Mei lalu mengisyaratkan warga dunia jika global warming belum berhenti. Tetapi yang terpenting saat ini adalah menyadari jika global warming adalah sebuah fenomena yang berlangsung lama," ungkap Michael Oppenheimer yang juga salah satu peneliti iklim dari Universitas Princeton, AS.

Advertisement
(mdk/bbo)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.