Akhir abad 21, pemanasan global ubah Timur Tengah jadi 'neraka'
Ratusan juta penduduk Timur Tengah terancam diungsikan
Pemanasan global atau global warming tidak hanya mengancam es di kutub Bumi, tetapi juga kawasan sekitar Timur Tengah dan Afrika Utara. Bahkan, bencana akibat pemanasan global diprediksi bakal memanggang dua kawasan tadi di akhir abad 21.
Berdasarkan penelitian Jos Lelieveld dari Institut Max Planck, suhu siang hari di Timur Tengah dan Afrika Utara bisa mencapai 50 derajat Celcius kurang dari 100 tahun lagi. Tidak hanya itu, serangan gelombang panas bisa muncul 10 kali lebih sering dari saat ini, dan lebih lama! Bagi manusia, cuaca sepanas itu sudah mirip 'neraka' ketimbang Bumi.
Di saat yang sama, selama 118 hari dalam satu tahun suhu dua kawasan tadi bisa terus menerus panas tanpa henti. Celakanya, dampak pemanasan global ini tidak bisa dihentikan meski penduduk Bumi mengurangi emisi gas karbondioksida dipangkas di tahun 2040.
Serangan gelombang panas dan badai debu gurun pasir di Timur Tengah dan Afrika Utara juga dapat membuat kawasan itu tidak bisa ditinggali oleh manusia. Saat ini saja ilmuwan sudah menemukan bila konsentrasi debu di atmosfer Arab Saudi, Irak, dan Suriah meningkat 70 persen dibanding tahun 2000an.
Tidak tertutup kemungkinan bila di akhir abad ke-21 nanti, sekitar 500 juta lebih penduduk Timur Tengah dan Afrika Utara harus diungsikan agar tak jadi korban gelombang panas mematikan. Menakutkan bukan?
Sumber: Daily Mail
Baca juga:
Ini bukti ilmiah kalau sahabat adalah sumber kebahagiaan sejati
Ironis, 6 ilmuwan berhati mulia ini tak sengaja jadi malaikat maut
Kisah mengejutkan dari 'Manx', komet tak berekor sepupu Bumi
Mesin pencari Partikel Tuhan terpaksa dimatikan gara-gara musang
[Video] Ikan misterius tertangkap kamera di China, spesies baru?