7 Startup dengan pendanaan fantastis namun gagal dan gulung tikar
7 Startup dengan pendanaan fantastis namun gagal dan gulung tikar. Startup adalah salah satu bisnis yang sedang naik daun. menggabungkan ide kreatif dengan kecanggihan teknologi, tentu konsep-konsep menarik akan sangat dihargai oleh para konsumen.
Startup adalah salah satu bisnis yang sedang naik daun. menggabungkan ide kreatif dengan kecanggihan teknologi, tentu konsep-konsep menarik akan sangat dihargai oleh para konsumen.
Hal ini juga mengundang para investor untuk menanam pendanaan di banyak sekali startup dengan konsep menarik dan berpotensi jadi raksasa teknologi. Sayangnya, tak semua sesuai dengan apa yang diharapkan.
Menjamurnya startup dan konsep brilian yang tak selalu tepat guna pada konsumen, membuat banyak startup yang juga kolaps. Padahal, perusahaan-perusahaan ini sudah mendapatkan pendanaan yang fantastis dari berbagai venture capitalist atau bank.
Beepi
Beepi adalah sebuah startup jual beli mobil bekas yang berbasis di California, AS. Beepi sangat disukai konsumen pada awalnya, karena mobil-mobil bekas yang masuk akan diperiksa dengan baik, diproses, bahkan dikirim ke pembeli baru. Customer service-nya pun diakui sangat baik. Masalahnya hanya di manajemen perusahaan secara intern yang tak dijalankan dengan baik.
Padahal dari berbagai keunggulan tadi, Beepi mendapat pendanaan hampir 2 trilyun Rupiah dari 35 investor dalam 5 tahap.
Akhirnya, 200 dari 300 pegawainya dirumahkan dan merugi hingga 7 juta Dollar, dan akhirnya mengalami kebangkrutan.
Auctionata
Auctionata adalah startup yang bergerak dalam bidang pelelangan benda seni dan benda-benda koleksi buruan para kolektor. Dalam hal ini, Auctionata akan melakukan Live stream pelelangan tersebut.
Hal ini dirasa menarik oleh banyak pegiat seni, dan mendadak jadi konsep yang sangat berharga. Akhirnya, 15 investor bernai memberikan dana sebesar hampir 1,3 trilyun untuk Startup ini.
Anehnya, meski disambut gembira oleh para pegiat seni, bisnis ini tak berjalan lancar dan diminati sedikit orang. Terlebih lagi, kecepatan broadband internet yang tak seberapa stabil juga memperrumit keadaan. Akhirnya, Auctionata gulung tikar.
Yik Yak
Yik Yak adalah jejaring sosial di Android dan iOS, yang berkonsep thread diskusi antar pengguna Yik Yak dalam radius 8 kilometer. Jejaring sosial ini berbasis di Atlanta, Georgia, AS.
Yik Yak sempat populer karena konsepnya yang baru. Hal ini juga membuat 9 investor tergiur dan memberi mereka pendanaan senilai hampir 1 trilyun Rupiah.
Namun permasalahan besar mereka adalah konten tidak layak yang banyak dipos oleh pengguna tanpa pengawasan Yik Yak, serta cybercully dengan tingkatan yang tinggi dan bahkan berdampak di dunia nyata. Hal ini membuat semua orang kehilangan ketertarikan dengan aplikasi ini, dan akhirnya gulung tikar.
Sprig
Sprig adalah startup berbasis di San Fransisco, dan memiliki konsep "food on-demand." Sprig memasak sendiri apa yang diminta pelanggan sekaligus mengantarkan makanan tersebut ke tempat mereka.
Dari konsep tersebut, Sprig mendapat pendanaan besar dari 26 investor, sekitar 760 milyar Rupiah. Namun yang membuat Sprig tersandung ternyata soal ketidak efektian strategi dan mengelola karyawan.
Berbagai strategi telah dicoba untuk menyejahterakan karyawan, mulai dari pengadaan tipping, serta pengikatan karyawan secara full-time di mana sebagian besar perusahaan startup menggunakan karyawan kontrak. Akhirnya, hal ini membuat Sprig gulung tikar.
Jawbone
Jawbone adalah sebuah startup yang memproduksi aksesoris canggih, yang sudah ada sejak 90an. Perusahaan ini terkenal dengan speaker merk Jambox yang tak lagi naik daun.
Dalam industri aksesoris canggih seperti gelang canggih, perangkat audio portable, speaker nirkabel, serta headset bluetooth, ternyata perusahaan yang lebih besar seperti Apple, ASUS, Samsung dan lainnya dengan mudah bisa mematikan Jawbone. Padahal, di era keemasannya, Jawbone bisa mendapat pendanaan hingga hampir 8 trilyun. Namun saat ini, mereka akhirnya gulung tikar dan mencoba membangun perusahaan yang lebih kecil dan terfokus ke aksesoris kesehatan.
Hello
Hello adalah perusahaan yang memproduksi alat pelacak tidur bernama Sense. Sense sendiri merupakan alat canggih yang dapat mengetahui ritme tidur Anda dan memprediksi kesehatan Anda melalui pola tidur Anda. Alatnya pun menarik, hanya tinggal diletakkan dekat Anda tidur dan menyembunyikan sebuah 'pelacak' di dalam bantal Anda.
Awalnya, penjualan produk ini berjalan dengan baik, hingga Hello mendapat pendanaan sekitar setegah trilyun Rupiah dari 7 investor.
Namun pada akhirnya Hello bangkrut setelah mengklaim bahwa perusahaan tersebut mencari pembeli dengan nilai sebesar 250 hingga 300 juta Dollar.
Juicero
Juicero mungkin adalah startup dengan kisah paling memilukan dari daftar ini. Bagaimana tidak, startup ini hanya hidup tak sampai satu setengah tahun.
Juicero sendiri adalah perusahaan produsen juicer yang memudahkan penggunanya memeras sari buah atau sayur jadi sebuah minuman. Investor pun tertarik. Berbagai nama besar seperti Google Ventures dan juga Campbell Soup Company, ikut mendanai Juicero dengan total hampir 1,5 trilyun Rupiah.
Naasnya, Juicero mengalami penurunan drastis pasca dapat review jelek dari Bloomberg, yang menyebut bahwa membuat jus tak perlu menggunakan alat yang seharga hampir 5 juta Rupiah seperti Juicero, namun cukup dengan "memerasnya dengan tangan."
Akhirnya, perusahaan ini bangkrut dengan lama waktu berdiri hanya 16 bulan saja.