LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. SUMUT

Wawancara Founder Agradaya: Terapkan Sistem yang Adil untuk Petani Skala Kecil

Fokus di produk rempah, Asri juga memberdayakan perempuan-perempuan desa di daerah Sendangrejo serta terlibat diskusi aktif dengan kelompok petani skala kecil untuk mencari jalan tengah menerapkan harga yang adil.

2021-06-18 08:30:00
Sumut
Advertisement

Asri Saraswati dan suaminya, Andika Mahardika yang merupakan lulusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro ini memutuskan tinggal di Desa Sendangrejo, Kecamatan Minggir, Sleman sejak tahun 2014.

Bersama Andika, wanita kelahiran 19 Maret 1988 ini, juga mendirikan sebuah usaha berbasis komunitas di bidang pertanian yang bernama Agradaya.

Fokus di produk rempah, Asri juga memberdayakan perempuan-perempuan desa di daerah Sendangrejo serta terlibat diskusi aktif dengan kelompok petani skala kecil untuk mencari jalan tengah menerapkan harga yang adil atau fair, dan kualitas rempah yang baik untuk petani maupun konsumen.

Advertisement

Simak hasil wawancara merdeka.com berikut perihal perjalanan Agradaya dan konsep yang dibawanya:

Apa latar belakang mendirikan Agradaya dan memutuskan pindah ke Yogyakarta?

Sebenarnya awalnya itu nggak kepikiran, habis kuliah aku merasa waktu itu banyak yang bisa diexplore dari background keilmuanku, dan waktu itu kebetulan aku ikut Indonesia mengajar dan di situ memang terpapar banyak kesempatan dan resource-resource gitu, apa sih yang ada di bumi Indonesia terutama di pedesaan.

Advertisement

Kemudian seiring berjalannya waktu, aku semakin menyadari apa sih potensi kita, dan setelah merenungkannya, buat apa kembali ke kota lagi kalau harus bekerja untuk sesuatu yang mungkin aku merasa tidak berminat di sana, begitu juga dengan suamiku. Agradaya ini kan foundernya aku dan suamiku, waktu itu kami bertemu di Solo Mengajar dan ia juga memiliki keresahan yang sama dengan yang aku pikirkan.

Setelah itu kami sempat melakukan pencarian sebelum kami memutuskan berakhir sebagai Agradaya, kurang lebih proses pencariannya dua tahun, apa sih yang ingin kami lakukan, potensinya apa, dan secara validasi market serta bisnisnya yang bagus itu di mana.

Aku menyebutnya itu semua sebagai cost belajar ya, dan akhirnya aku merasa juga ide yang dicetuskan ternyata bermanfaat untuk orang, ada perubahan-perubahan yang terjadi.

Bagaimana asal mula nama Agradaya?

©2021 Merdeka.com/

Agradaya itu sebenarnya nama otak-atik dari suamiku. Agradaya itu doa supaya pertanian kita berdaya. Suamiku itu pernah bilang kalau orang desa itu orang yang paling beruntung.

Aku kan anak kota banget, aku tumbuh di Jakarta, kuliah di Malaysia, dan menanam itu nggak bisa. Tapi setelah pindah dan melihat tetangga di desa, makan tinggal cabut, akhirnya aku pun belajar menanam. Aku juga akhirnya mempertanyakan soal kata orang yang bilang kemiskinan itu di desa, sebenarnya mereka itu nggak miskin.

Dan kayaknya memang harus mempertanyakan lagi kaya miskin manusia, karena kacamata orang itu berbeda. Buatku, tetangga yang memasak dan mengambil bahan dari ladang serta kayu bakar di sekitar itu zero cost dan zero waste.

Jadi sebenarnya menurutku petani-petani di desa itu bukan tidak berdaya, namun dalam sebuah sistem, dia ini paling bawah. Jadi nggak pernah berada dalam kondisi di tengah maupun di atas sistem. Jadi pengennya kita potong rantai panjang itu, dan dari petani bisa langsung ke konsumen.

Apa riset yang mbak Asri lakukan di awal setelah pindah ke desa?

Research-nya lebih ke masyarakat sekitar, saat itu yang benar-benar kucari tahu, potensi apa yang ada di sekitar sini. Karena rempah atau kami menyebutnya sebagai tanaman biofarmaka, tanaman-tanaman itu aslinya kan di sekitar sini.

Petani kami memang di Menoreh tapi di sini juga banyak petani rempah, dan menarik bahan bakunya dari apa yang ada di sekitar juga.

Bagaimana mbak Asri membaca apa yang menjadi kebutuhan petani sekitar sehingga memasukkannya dalam salah satu visi Agradaya?

Awalnya lebih merasa aku sebagai sarjana teknik kimia, tanaman biofarmaka itu bisa diekstrak, ini bisa diberi added value, empon-empon bisa diekstrak dijadikan suplemen dan banyak lainnya.

Namun semakin aku belajar, aku justru menyadari dan mengerti kenapa sih orang desa itu hanya bisa sampai panen basah saja, kenapa hal tersebut susah dipraktikkan, ilmu yang mengawang tadi susah ditarik di desa.

Dan sampai di titik ini aku merasa ekstraksi di desa itu penting namun aku tidak ngoyo. Karena selama 7 tahun ini aku mempunyai perubahan value, yang awalnya harus begini dan begitu menurut keilmuanku, akhirnya bergeser sendiri.

Aku merasa untuk apa rempah-rempah diekstrak jika hanya untuk pemenuhan industri, yang sehat orang lain, tetapi para petani sendiri tidak mengonsumsi.

Nah akhirnya keputusan yang paling dekat manfaatnya yaitu dengan pengeringan, kami semua bisa minum, bisa diolah menjadi makanan, konsumen dan petani sama-sama bisa sehat.

Apa yang mbak Asri terapkan supaya petani bisa sama-sama untung atau fair?

Sebenarnya adil itu kan belum tentu sama menurutku, dan bergantung kacamata kita melihatnya dari mana. Dan kalau cara Agradaya bisa menciptakan fairness itu dari diskusi dan komunikasi. Kita selalu mengutamakan untuk berdialog bersama ibu-ibu petani, misalnya sebelum menentukan harga.

Waktu kami menentukan harga beli di petani, kami ikut perkumpulan setiap Kamis Kliwon. Dan mengejutkannya selama ini labour cost nya mereka tidak terhitung dan mereka terima apa adanya dari tengkulak.

Mereka itu adalah korban dari sebuah sistem yang sudah terjadi. Dan yasudah kalau mau keluar dari sistem nggak usah teriak-teriak, ayo kita keluar dari sistem dan mengedukasi bahwa seharusnya ketika menanam, ada labour cost selama enam bulan atau delapan bulan menanam misalnya.

Misalnya sekarang jahe harganya Rp 30.000 per kilogram, di petani jahe merah dibeli Rp 32.000 per kilogram, itu mereka sudah cukup senang. Kalau kunyit? Sepertinya waktu itu sekitar seribuan per kilogram gitu kan ke tengkulak dalam bentuk basah. Nah ketika kami membeli dari petani, kami mengambil dalam bentuk simplisia kering.

Nah yang dihitung labour cost nya itu ketika menjadikan kunyit basah menjadi kunyit kering 1 kg, itu kan ada tenaga dan upaya untuk mengiris dan lainnya, sehingga kami membelinya Rp 40.000, itu sebelum pandemi. Sedangkan ketika di pasar normal cost labournya nggak dihitung, jadi biasanya langsung dibeli misalnya Rp. 5000 per kilogram.

Proses dari menuju harga fair, saat diskusi itu membuat miris, jadi kami jelaskan runtut, dan mereka menanggapi apakah itu tidak kemahalan? Enggaklah buk, kenapa kemahalan. Pun ternyata ketika kami ke pasar memang jauh berbeda dari harga biasa.

Bagaimana kemudian kenaikan harga selama pandemi?

Harga dan permintaan kunyit kan jadi naik di pasaran selama pandemi. Sebenarnya aku sebagai pemilik Agradaya akan lebih happy dengan kondisi harga yang awal kan, tapi kan yang namanya bisnis fair nggak gitu kan, pasti ujungnya harus menciptakan kebaikan bersama.

Harga beli konsumen naik, yaudah harga beli kami ke petani juga harus naik. Ya kami berdiskusi lagi kepada ibu-ibu petani, bu ini kalau harga beli kunyit saya naikkan masih oke tidak menjadi Rp 60.000. Ya ternyata marjinnya Agradaya masih aman, yasudah hajar.

Nah sistem itu sebenarnya yang berusaha aku yakini bahwa jarang banget ada bisnis dengan sistem seperti itu. Karena kalau kita supply ke pabrik jamu biasa, ada minimum purchasing, ada minimul supply, dan mereka minta harga, quantity, quality, sama continuity.

Nah sudah pasti kalau petani skala kecil yang panennya kurang dari 100 kg itu tidak akan bisa jadi supplier. Makanya kita mainnya sama kelompok petani kecil tersebut dan membuka ruang diskusi itu.

Bekerja sama dengan petani di mana saja?

Agradaya bekerja sama dengan petani di Yogyakarta dan Tenggralek.

Bagaimana cara mbak Asri untuk membuat kualitas dan harga beli berbanding lurus?

©2021 Merdeka.com/

Ketika kita memberikan harga tinggi itu ada persyaratannya, kita juga nge­train petani untuk lebih bisa menjaga kualitas dalam arti kata pengeringannya, dari hulunya harus natural farming atau nggak memakai bahan kimia, pengolahannya juga harus sesuai standar, itu butuh waktu yang cukup lama.

Karena di Indonesia ini pengolahan pasca panen itu jarang banget. Orang cenderung memandang pertanian ini sebagai objek pengolahan di hulu yang berkecimpung dengan hal kotor, menanam terus dan sebagainya. Padahal pertanian itu terintegrasi antara pengolahan di hulu sama pasca panen. Termasuk seperti pengeringan, ekstrasi dan sebagainya. Sedihnya di Indonesia, pemerintah nggak ngelirik ke sana aku nggak tahu kenapa.

Idealnya di bayanganku nggak perlu gede-gede. Misalnya, simplisia begini kalau mau diekstrasi untuk obat harus mengekstraksi di perusahaan ekstraktor besar. Jadi desa-desa nggak punya, kalau idealnya menurutku desa punya alat pengeringan, ekstraksi yang nggak usah gede-gede.

Tapi memang kenyataannya mengolah simplisia sesuai standar itu butuh waktu yang sangat lama. Kami butuh setahun untuk mengedukasi kelompok petani hingga mencapai standar. Dan sebenarnya petani kelompok tua itu sudah capek menamam di sawah sehingga sebenarnya butuh anak muda untuk melakukan tugas pasca panen.

Jadi bayanganku ada satu sentral pengolahan pasca panen di desa. Idealnya keluar dari desa itu level paling rendahnya dalam bentuk kering, nanti mau dijadiin ekstrak, kapsul akan lebih mudah selanjutnya.

Sebelum pandemi dan sekarang saat pandemi, apa yang menjadi tantangan Agradaya?

Sebenarnya saat pandemi malah meningkat marketnya, namun kompetitornya juga tambah banyak meski sebenarnya aku tidak masalah karena pasti rezeki ada saja. Tujuh tahun yang lalu aku kesusahan membuka market karena jarang yang menyukai jamu, namun sekarang anak muda mulai banyak yang suka jamu lagi.

Namun challengenya lebih di sisi bisnisnya yakni selain produksi, yaitu harus lebih kreatif, misalnya membuat workshop virtual, atau kerja sama dengan pemerintah untuk membuat program.

Karena menurutku Agradaya dan tanaman biofarmaka itu cuma alat, tapi sebenarnya concern nya adalah supaya desa dan kebudayaan nusantara serta alam bisa lebih diapresiasi orang. Kalau levelnya cuma jualan produk itu malah mudah banget.

Omset paling tinggi sebenarnya awal pandemi. Dan aku merasa tidak boleh berhenti cuma di jualan saja. Ya goalsnya pengen pesan-pesan Agradaya lebih tersampaikan. Kalau anak muda nggak perlu keluar dari desa, banyak kekayaan alam Indonesia, kembalilah ke natural konsumsi yang baik.

Apa harapan Agradaya ke depannya?

©2021 Merdeka.com/

Kami ingin bisa menjadi wadah untuk petani skala kecil supaya mereka bisa terus setor hasilnya ke sini dan kami membelinya dengan harga yang baik untuk mereka. Kemudian apa yang dihasilkan di sini bisa dikonsumsi pula orang-orang di sini dan mereka mampu membelinya. Jadi bukan cuma untuk dijual di kota, untuk apa harga mahal kalau orang desa nggak bisa membeli hasil dari sumber alam mereka.

Lalu di sini sebenarnya bisa juga menjadi tempat untuk orang desa maupun orang kota belajar pengolahan rempah serta perihal kemandirian desa, jadi pengennya untuk ruang publik gitu.

(mdk/amd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.