Tradisi Maulid Nabi Adat Bayan Lombok, Ritual Bisoq Menik Hingga Menyembeq
Maulid Nabi atau peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW memang selalu menjadi refleksi tersendiri umat Islam. Di Indonesia sendiri, peringatan Maulid Nabi diselenggarakan dengan berbagai kegiatan, salah satunya Tradisi Maulid Nabi Adat Bayan, Lombok. Akulturasi Suku Sasak Adat Bayan menyatu dengan Tradisi Islam.
Alunan pukulan lesung dan alu bergiliran menderu, menghasilkan irama beragam. Para wanita Suku Sasak ini menyambut hari dengan penuh suka cita. Hari yang bertepatan dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam tradisi Mulud Adat Bayan. Begitu juga para pria yang turut menyemarakkan tradisi Maulid Nabi Adat Bayan, Kecamatan Baya, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
Pengaruh agama Islam di Pulau Lombok memang tidak bisa lepas dari peran Wali Songo yang berdakwah di Tanah Lombok pada abad ke-16. Ajaran Islam menyatu dengan adat Sasak dengan adanya pusat peribadatan Masjid Bayan Beleq. Masjid pertama di Lombok yang melahirkan tradisi Maulid Nabi Adat Bayan.
Salah satu rangkaian kegiatan mereka ialah menumbuk padi secara tradisional. Tak seperti biasanya, alu memiliki panjang dua kali orang dewasa sedangkan lesungnya seukuran perahu. Tak hanya itu, ritual lain berupa Ngegelat, hingga Menyembeq turut menyemarakkan peringatan kelahiran Nabi Muhammad.
©2021 Merdeka.com/Elyana Dasuki
Uniknya lagi, Maulid Nabi Adat Bayan diselenggarakan lebih dari 2 hari setelah peringatan kelahiran Nabi Muhammad pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Pada tanggal 14 dan 15 Rabiul Awal atau selama dua hari, masyarakat Suku Sasak melaksanakan peringatan Maulid Nabi.
Hari pertama warga adat Bayan akan menyerahkan hasil bumi kepada Inan Menik yang nantinya akan disajikan kepada tokoh agama dan adat. Melalui Inan Menik, setiap warga akan mengutarakan hajatnya yang kemudian akan diberi tanda daun sirih pada dahi mereka masing-masing. Tradisi ini disebut dengan Menyembeq.
Malam harinya para pria akan melakukan tradisi Ngegelat, yakni menghiasi ruangan masjid kuno Bayan Beleq. Simbol yang digunakan sarat akan makna dan, iringan gamelan turut menjadi pertanda ritual Presean dimulai. Presean merupakan pertarungan dua pria menggunakan pemukul yang terbuat dari rotan. Bak duel sungguhan, mereka memakai perisai yang terbuat dari kulit sapi.
©2021 Merdeka.com/Elyana Dasuki
Sebuah ikatan antara para perempuan dengan beras, tergambar jelas dalam ritual Bisoq Menik. Ritual ini diselenggarakan pada hari kedua dalam peringatan Maulid Nabi. Para wanita akan turun ke sungai untuk mencuci beras atau Bisoq Menik. Ritual Bisoq Menik harus dilakukan oleh perempuan dalam keadaan suci. Bahkan saat menjalankannya, berbicara merupakan pantangan tersendiri.
Di Sungai mata air Lokoq Masan Segah ini mereka memanfaatkan aliran airnya. Nantinya, beras yang sudah bersih kemudian segera dimasak sebagai hidangan makan bersama warga desa.
©2021 Merdeka.com/Elyana Dasuki
Namun sebelumnya, para wanita harus menyusuri jalan setapak menembus semak untuk sampai di tepian sungai. Ada pantangan tersendiri, mereka dilarang memotong jalan dan menoleh selama perjalanan. Bakul yang berisi beras dipikul di atas kepala dengan pakaian adat tradisional yang sudah ditentukan.
Sore harinya, Praja Mulud atau para pemuda Adat yang telah didandani menyerupai dua pasang pengantin. Diiringi bersama-sama dari rumah Pembekel Beleq Bat Orong atau Pemangku adat. Mereka akan diarak menuju Masjid Kuno dengan membawa sajian yang berupa hidangan seperti nasi dan lauk pauknya.
Praja Mulud ini menggambarkan proses terjadinya perkawinan Adam dan Hawa, yang disimbolkan dengan pasangan pengantin yang dilakukan oleh pranata-pranata adat Bayan.
©2021 Merdeka.com/Elyana Dasuki
Kedekatan antara perempuan dengan makanan itulah yang saat ini terjadi dalam tradisi Maulid Nabi Adat Bayan. Hubungan antara perempuan dengan makanan memang tidak dapat dipisahkan. Perempuan, sudah memberi makan anak-anaknya sebelum anak tersebut menghirup napas kehidupan.
Bangunan adat Bayan didominasi dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Atapnya terbuat dari bilah bambu dengan atap rumbia hingga ijuk. Hal inilah yang menjadi akulturasi masjid tertua di Lombok melakukan akulturasi dengan budaya Suku Sasak.
(mdk/Ibr)