LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. SUMUT

Tinggal di Pulau Tertinggal, Pria Ini Harus Seberangi Lautan demi Air Bersih

Warga yang tinggal di Pulau Pangabatang, Kabupaten Sikka, NTT masih hidup dalam ketertinggalan. Bahkan, warga tak mendapatkan hak-hak kebutuhan dasar seperti air bersih, listrik dan fasilitas pendidikan.

2020-09-07 19:00:00
Kisah Pilu
Advertisement

Di zaman yang sudah modern seperti sekarang ini, ternyata masih banyak daerah di Tanah Air yang belum mendapatkan fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Seperti yang terjadi di Pulau Pangabatang, Kabupaten Sikka, NTT yang masih jauh tertinggal.

Dilansir dari Liputan6.com, warga yang tinggal di Pulau Pangabatang ini masih hidup dalam ketertinggalan. Bahkan, warga tak mendapatkan hak-hak kebutuhan dasar seperti air bersih, listrik, dan fasilitas pendidikan.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga masih harus mengeluarkan ongkos demi mendapatkan air minum, bahkan harus menempuh jarak yang jauh. Seperti yang dialami oleh salah satu warga, Jubair, yang harus menyeberangi lautan saat hendak mencari air bersih.

Advertisement

Menyeberangi Lautan

Untuk membeli air bersih, Jubair terpaksa harus mendayung sampan dari Pulau Pangabatang menuju Nanga dan Nenbura di Desa Koja Gete.

Begitupun untuk penerangan, Ia dan warga di sana masih menggunakan lampu pelita. Fasilitas pendidikan juga masih jauh dari kata ideal.

Advertisement

"Di sini ada air tapi asin. Kami butuh air tawar untuk minum dan masak. Kalau untuk mandi dan cuci kami pakai air asin dari sumur yang ada di pulau," ungkap Jubair pada Jumat (4/9).

Butuh Waktu 45 Menit Sekali Perjalanan

Ada dua tempat di mana warga bisa mendapatkan air tawar. Pertama, di Nanga dan Nebura di Desa Kojagete. Kedua, air itu ada di Desa Kojagete di Pulau Besar.

Untuk sampai ke Nebura, Jubair harus melewati Pulau Dambila. Sementara itu, untuk sampai ke Nanga mereka harus melewati Pulau Permaan. Butuh waktu 30 sampai 45 menit mendayung dengan perahu untuk sekali perjalanan ke tempat air bersih.

"Airnya kami beli, harganya Rp1.000 per jerigen ukuran 10 liter," ujarnya.

Warga Tak Punya Pilihan

Air bersih memang jadi persoalan utama warga Pangabatang yang berjumlah 84 KK. Meski demikian, baik Jubair maupun warga lain memilih bertahan di Pangabatang.

"Kami sudah terbiasa seperti ini. Mau pindah ke mana lagi," ungkap Jubair.

Butuh Bantuan Lebih dari Pemerintah Setempat

Kades Parumaan, Muhdir mengatakan, Pemdes Parumaan telah berupaya membantu warga. Tahun lalu, dengan dana desa, Pemdes menyediakan 61 profil tank untuk setiap rumah tangga. Tujuannya untuk menampung air hujan agar bisa digunakan.

"Tentu ini tidak cukup membantu terutama di musim kemarau," tandasnya.

Menurutnya, Pemdes Parumaan butuh campur tangan banyak pihak terutama Pemda Sikka untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Pangabatang.

(mdk/far)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.