Tari Janger Maborbor, Tarian Sakral di Atas Api Tanpa Terbakar
Para penari ini lihai menari di atas bara api yang menyala. Percikan api, bara api yang memanas tak membuat mereka gentar. Berputar mengelilingi lantas berulang kali menginjak-injak si jago merah. Tak ada raut wajah kesakitan atau nyeri. Sang penari khusyuk dengan Tari Janger Maborbor yang dimainkan.
Diiringi sebuah nyanyian yang mengalun pelan, para penari ini lihai menari di atas bara api yang menyala. Percikan api, bara api yang memanas tak membuat mereka gentar. Berputar mengelilingi lantas berulang kali menginjak-injak si jago merah. Tak ada raut wajah kesakitan atau nyeri. Sang penari khusyuk dengan Tari Janger Maborbor yang dimainkan.
Tari Janger Maborbor memang bukan tarian biasa. Tari Janger Maborbor adalah tarian sakral dengan media api. Tari yang dianggap suci ini berlangsung di Br. Metra, Desa Yangapi, Tembuku, Bangli, Bali. Sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, Tari tradisional Janger Maborbor ini terus dan tetap lestari.
Tarian ini dipentaskan untuk menolak bala atau wabah penyakit. Pementasannya dilakukan untuk melengkapi prosesi upacara keagamaan di sejumlah Pura Desa Pakraman Metra. Selain itu, Tari Janger Maborbor juga sebagai tari kesuburan yang berfungsi untuk membayar kaul.
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna
Tari Janger Maborbor ini dipentaskan oleh 5-10 pasang penari putra dan putri yang belum menginjak dewasa. Penari wanita disebut Janger sedangkan penari pria disebut kecak. Ciri khas Tarian Janger Maborbor ialah ritual kesurupan pada akhir pertunjukannya.
Setelah pemangku selesai menghaturkan persembahan, mereka akan mempersiapkan serabut kelapa dan menyalakan bara api. Diketahui api dari serabut kelapa ini bermakna mengubah kekuatan negatif menjadi positif.
Tak menunggu waktu lama, para penari akan menginjak-injak bara api dalam keadaan tak sadarkan diri atau kesurupan. Panasnya api yang menyala di pementasan seolah tak mempan dengan tubuh.
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna
Beberapa penari bahkan sampai memakan bara api. Memegang api di serabut, lalu disantap. Meski ekstrem, namun penari ini tak ada yang terluka satu pun. Bahkan tak jarang penonton pun ikut kesurupan dan ikut menari bersama bara api.
Dilansir dari balitoursclub, kekuatan ini berasal dari sesuhunan setempat yang merasuki raga sang penari. Serta kekuatan dari Kemahakuasaan Tuhan (Sanghyang Widi). Pertunjukkan tari ini biasanya berlangsung selama 1 jam.
Penghujung tarian ini saat bara api mulai padam. Para penari nanti dipercikkan tirta. Mereka akan kembali seperti sedia kala. Tanpa luka.
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna
Tari Janger Maborbor pertama kali dipentaskan di Pura Penyimpenan Dukuh Bukti. Kala itu, masyarakat Desa Yangapi terkena wabah penyakit. Masyarakat kemudian inisiatif mempersembahkan tarian ini. Perlahan namun pasti, warga mulai pulih.
Hingga akhirnya, Tari Janger Maborbor terus dipersembahkan sebagai tarian penolak bala atau wabah. Masyarakat meyakini jika tidak menggelar tarian ini mara bahaya akan menghampiri desa.
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna
Sejatinya, ada beberapa jenis Tarian Janger di Pulau Dewata ini. Setiap tarian Janger yang berkembang di Bali memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing. Seperti Tarian Janger yang berkembang di daerah Tabanan biasanya akan dilengkapi dengan penampilan Dag.
Tarian Janger Gong yang berkembang di desa Sibang, Badung diiringi dengan gong kebyar. Sedangkan Tarian Jangerdi desa Bulian, Bulelengdibawakan oleh para tunawicara. Namun, beberapa gerakan tariannya mirip.Mereka menari sambil menyanyikan Lagu Janger secara bersahut-sahutan, mengikuti irama teriakan satu sama lain dan menjadikannya tarian khas Bali yang harmonis.
(mdk/Tys)