Mengintip Budidaya Kepiting Bakau di Sungai Nipah, Gunakan Inovasi Vertical Crab
Meningkatnya permintaan, memicu tuntutan untuk menghasilkan produk yang lebih banyak lagi. Tuntutan ini terasa sekali dampaknya bagi para petani budidaya Kepiting Bakau terutama di Sungai Nipah, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat.
Olahan kepiting semakin banyak peminatnya. Salah satu jenis kepiting yang sedang eksis di dunia kuliner yaitu Kepiting Bakau. Kini, menjadi salah satu komoditi yang menjanjikan di sektor pasar ekspor dan menjadi produk yang sangat berharga.
Meningkatnya permintaan, memicu tuntutan untuk menghasilkan produk yang lebih banyak lagi. Tuntutan ini terasa sekali dampaknya bagi para petani budidaya Kepiting Bakau terutama di Sungai Nipah, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat.
Petambak udang menganggap bahwa kepiting ini merupakan hama yang harus disingkirkan. Tetapi dengan seiring berjalannya waktu, Kepiting Bakau justru diburu dan ditangkap di kawasan pasang surut laut. Sehingga populasinya menipis di alam terbuka memaksa didirikannya budidaya kepiting.
Penasaran dengan inovasi yang dikembangkan pada budidaya Kepiting Bakau di Sungai Nipah? Simak ulasan yang dihimpun dari beberapa sumber berikut ini.
Jenis-Jenis Kepiting Bakau
©2016 merdeka.com/istimewa
Populasi Kepiting Bakau di Indonesia bisa dijumpai dari Sabang sampai Merauke. Sehingga untuk memburunya tidak begitu sulit, selama di kawasan tersebut masih terdapat hutan mangrove (bakau) yang tumbuh.
Melansir dari indonesia.go.id, terdapat beberapa jenis kepiting bakau yang ada di Indonesia, yaitu Kepiting Bakau Merah (Scylla olivacea), Kepiting Bakau Hijau (Scylla serrata), Kepiting Bakau Ungu (Scylla tranquebarica), dan kepiting bakau putih (Scylla paramamosain). Seluruhnya sudah sangat laku di pasaran.
Inovasi Teknik Budidaya
©2023 Merdeka.com
Teknik budidaya kepiting, seiring berjalannya waktu, semakin berkembang. Awalnya, bibit kepiting alam ditumbuhkan dalam kolam payau dan diberi makan. Pada satu kolam tersebut bisa berisikan puluhan ekor tergantung dari ukurannya.
Lalu, cara budidaya juga terus berubah. Kepiting yang hidup bisa beradaptasi dalam kotak-kotak (kandang) berbahan plastik berukuran lebar 25 cm, tinggi 25 cm, dan panjang 30 cm. Terdapat pintu yang bisa buka tutup untuk akses keluar masuk kepiting sekaligus pemberian pakan. Budidaya ini bisa dilakukan di dalam ruangan atau indoor.
Uniknya, kandang-kandang tadi bisa dipasang berderet rapat dan tersusun hingga lima tingkat. Ruang ukuran 10x6 m2 itu bisa menampung kepiting hingga 1.500 ekor. Termasuk jaringan pipa dan kolam air payau untuk kebutuhan sirkulasi air.
Teknik dan inovasi untuk budidaya kepiting dalam kandang berderet dan bertingkat itu dinamakan Vertical Crab House atau apartemen kepiting.
Sorotan dari Beberapa Pihak
©2021 Merdeka.com
Dengan lahirnya inovasi besar inilah, berbagai pihak dari perguruan tinggi maupun instansi pemerintahan sangat menyoroti teknik budi daya semacam ini. Contoh, IPB University Bogor sudah mengembangkannya sejak beberapa tahun terakhir.
Sedangkan peluang pengembangan kepiting untuk usaha rakyat juga dilirik oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumatra Barat. Kemudian lahirlah kerja sama antara IPB University dengan DKP Sumbar dalam mengembangkan inovasi Vertical Crab House yang sesuai dengan ukuran usaha rakyat.
Inovasi ini juga sebagai solusi atas tingginya tingkat kematian pada budi daya kepiting serta mencapai ukuran produksi yang seragam. Kunci utama dari budi daya Vertical Crab House ini cukup pada sirkulasi air yang baik, bentuk, dan ukuran wadah serta proses pemeliharaannya.
Di samping itu, kepiting yang di budidaya dalam Vertical Crab House ini tidak perlu waktu lama untuk tumbuh besar. Cukup dengan waktu tiga minggu, ukuran kepiting sudah meningkat mencapai 13 sampai 14 cm yang sebelumnya hanya 7 cm. Dan memiliki berat 200 gram lebih.