Mengenal Slow Living, Memaknai Hidup di Era yang Gegas
Tak bisa dipungkiri kini kita hidup di zaman yang serba cepat. Memang ada teknologi yang mendukung dan mempermudah pekerjaan kita, namun dengan instannya beragam hal seperti informasi maupun makanan terkadang tidak membuat kita menghargai proses dan menghilangkan tujuan utama hidup kita.
Tak bisa dipungkiri kini kita hidup di zaman yang serba cepat. Memang ada teknologi yang mendukung dan mempermudah pekerjaan kita, namun dengan instannya beragam hal seperti informasi maupun makanan terkadang tidak membuat kita menghargai proses dan menghilangkan tujuan utama hidup kita.
Kita dituntut tak boleh ketinggalan dan terkadang kita terbawa dalam arus konsumerisme entah itu informasi maupun barang bahkan mungkin juga kita ingin bisa melakukan apa saja dan mahir dalam bidang apa saja.
Mungkin sekilas hal tersebut bukan masalah besar dan bahkan positif, namun ketika tekanan keinginan untuk cepat bisa dan cepat sukses terus berlangsung ini akan menghilangkan diri kita di tengah era gegas ini.
Tercetuslah istilah slow loving, meski ini sebenarnya bukan hal baru, namun istilah tersebut semakin populer karena keinginan kebutuhan hidup yang lebih bermakna dan tidak didikte dengan modernitas.
Berikut merdeka.com rangkum selengkapnya mengenal slow living dan manfaatnya menerapkannya di zaman serba cepat:
Mengenal Slow Living
Sederhananya, slow living atau hidup lambat berarti melakukan lebih sedikit dan membeli lebih sedikit, tetapi untuk tujuan yang lebih baik. Ini membuat kita terus mempertanyakan apa yang kita butuhkan di tengah dorongan kehidupan modern dan menikmati apa yang kita miliki dengan cara yang lebih dalam.
Gerakan slow living menyerukan pendekatan yang lebih disengaja untuk hidup dan menolak gagasan bahwa menjadi sibuk berarti Anda penting, untuk menjadi kaya Anda perlu memiliki lebih banyak barang atau bahwa untuk menjadi sukses kita harus mengimbangi tekanan tanpa henti dari kehidupan modern.
Seperti yang dijelaskan Honoré, “Prinsip utama dari filosofi slow adalah meluangkan waktu untuk melakukan sesuatu dengan benar, dan dengan demikian lebih menikmatinya.”
Baginya, dan bagi banyak orang lain dalam gerakan slow living, “manfaat besar dari memperlambat adalah merebut kembali waktu dan ketenangan untuk membuat hubungan yang bermakna dengan orang-orang, dengan budaya, dengan pekerjaan, dengan alam, dengan tubuh dan pikiran kita sendiri.”
Akar dari filosofi slow living
Hidup lambat atau slow living sebagai gerakan yang didefinisikan dengan jelas muncul sebagai reaksi terhadap makanan cepat saji di Italia, dengan didirikannya gerakan makanan lambat oleh Carlo Petrini pada tahun 1986.
Sejak itu, manfaat memperlambat telah diterapkan pada lingkaran kehidupan yang semakin melebar, termasuk segala sesuatu mulai dari mode hingga uang, karier, pengasuhan anak, dan gaya hidup.
Tetapi akar kehidupan yang lambat lebih dalam dari ini. Pada tahun 1973, buku EF Schumacher, Small is Beautiful, adalah seruan yang menarik dan radikal bagi budaya kita untuk memperlambat dan memikirkan kembali prioritas kita, untuk menempatkan manusia dan alam di atas keuntungan dan terlibat dalam ekonomi yang manusiawi. “Setiap orang bodoh yang cerdas dapat membuat segalanya lebih besar, lebih kompleks, dan lebih kejam. Dibutuhkan sentuhan jenius, dan banyak keberanian untuk bergerak ke arah yang berlawanan,” tulis Schumacher.
Bahkan sebelum tahun 1970-an, banyak filsuf dan pemikir menantang kecepatan yang digerakkan oleh mesin dan efek samping yang merusak dari revolusi industri. Dengan bukunya tahun 1948, Leisure: The Basis of Culture, Josef Pieper berpendapat bahwa jika kita tidak menemukan kembali nilai waktu luang dan memprioritaskan waktu untuk kontemplasi, kita akan menghancurkan budaya kita dan diri kita sendiri seperti yang dikutip dari laman grottonetwork.com.
Dalam menghadapi budaya materialistis dan konsumerisme, filosofi lambat mendorong kita untuk mempertanyakan asal-usul barang yang kita beli, makanan yang kita makan, dan produk yang kita bersihkan semuanya sebagai cara untuk secara sengaja mempertimbangkan manusia, lingkungan, dan dampak kesehatan dari kebiasaan dan pilihan kita sehari-hari.
Melakukan hal ini juga dapat membantu kita menemukan lebih banyak kegembiraan dalam kehidupan sehari-hari, serta makna dan hubungan yang lebih dalam dalam hidup kita. Hidup lebih lambat dan penuh perhatian memungkinkan kita untuk menciptakan ruang yang kita butuhkan untuk perkembangan spiritual.
Kesalahpahaman umum tentang hidup lambat
Hidup lambat bukan tentang menjalani hidup dengan kecepatan siput. Ini tentang menetapkan jumlah waktu yang tepat untuk setiap tugas atau aktivitas.
Hidup lambat bukan hanya untuk mereka yang tinggal di pedesaan. Hidup lambat adalah pola pikir semua orang, baik rumah Anda di ibu kota yang ramai atau di dusun.
Hidup lambat tidak bertentangan dengan menjadi sukses atau produktif. Sebaliknya, ini tentang menghayati gagasan kesuksesan Anda sendiri dan memprioritaskan apa yang paling penting bagi Anda.
Hidup lambat bukan berarti bebas teknologi. Ini berarti memastikan teknologi melayani kita, tidak mengganggu kita, dan mengakui perlunya waktu henti layar di era digital.
Manfaat Slow Living
Mengapa Anda harus menjelajahi gerakan slow living? Berikut beberapa alasan mengapa perlu mencoba melakukannya melansir dari refinedprose:
- Meningkatkan apresiasi dan rasa terima kasih,
- Langkah hidup yang lebih santai,
- Jadwal lebih tenang,
- Lebih banyak waktu melakukan hal-hal yang membawa sukacita,
- Kewajiban lebih sedikit,
- Peningkatan produktivitas,
- Rasa damai yang lebih besar,
- Koneksi yang lebih dalam,
- Peningkatan kesejahteraan.