Mengenal Gotong, Penutup Kepala Bagi Kaum Laki-Laki di Simalungun
Masyarakat Batak tergolong ke dalam beberapa marga, salah satunya Simalungun. Dalam kehidupan adat istiadatnya, Simalungun cukup terkenal dengan aksesoris yang bernama Gotong.
Masyarakat Batak tergolong ke dalam beberapa marga, salah satunya Simalungun. Dalam kehidupan adat istiadatnya, Simalungun cukup terkenal dengan aksesoris yang bernama Gotong.
Penggunaan Gotong sendiri khusus digunakan oleh kaum pria Simalungun sebagai salah satu bagian dari kelengkapan pakaian adatnya. Gotong sudah menjadi ciri identitas etnik Simalungun, tak heran jika para laki-laki sedang mengenakan pakaian adat pasti ada aksesoris penutup kepala tersebut.
Meskipun hanya sebagai aksesoris pelengkap pakaian adat, Gotong ternyata memiliki sejarah dan makna yang terkandung di dalamnya.
Penasaran dengan sejarah dan makna dari penggunaan Gotong khas Simalungun ini? Simak rangkuman selengkapnya yang dihimpun dari beberapa sumber berikut ini.
Sejarah Gotong
Melansir dari buku "Gotong (Penutup Kepala Pria) Khas Simalungun" (2017) karya Harvina, S.Sos, Gotong pada mulanya digunakan sebagai penutup kepala milik laki-laki Simalungun yang hanya berupa Hiou Ragi Panei (sehelai kain tenun) yang dililitkan di kepala.
Pada tahun 1907, ketika pemerintahan kolonial Belanda menduduki Simalungun, bangkitnya industri tekstil sudah semakin terasa. Maka dari itu, kain-kain produksi dari Pulau Jawa ini mulai dipasarkan ke masyarakat Simalungun.
Seiring berjalannya waktu, Gotong juga ikut mengalami perubahan, yang awalnya hanya menggunakan kain tenun kemudian berubah menggunakan kain batik berwarna gelap yang dilengkapi dengan tambahan aksesoris.
Gotong menjadi perwujudan rasa hormat kepada pendatang Jawa di Simalungun. Kain itu pernah menjadi hadiah dari raja di Jawa yang diberikan kepada raja di Simalungun.
Tidak Digunakan Sembarangan
Dalam penggunaannya, Gotong dibedakan menjadi dua, yaitu Gotong Partongah (penutup kepala bangsawan) dan Gotong Paruma (penutup kepala kaum paruma).
Dulunya penggunaan Gotong memiliki tatanan sendiri dan tidak boleh sembarangan. Contohnya tidak diperbolehkan memakai Gotong Partongah bagi rakyat Paruma, Jabolon. Selain itu, Gotong Partongah dan Paruma hanya digunakan pada acara upacara adat maupun perkawinan saja.
Namun pada masa Revolusi Sosial tahun 1946, membuat tatanan kerajaan beserta adat istiadatnya menjadi berantakan. Lenyapnya Istana Simalungun atau Rumah Bolon, kemudian terbunuhnya keluarga bangsawan membuat kewibawaan orang Simalungun menjadi menurun.
Milik Masyarakat Simalungun
Sejak terjadinya Revolusi Sosial, terjadi perubahan yang drastis dalam ketentuan penggunaan aksesoris seperti Gotong Simalungun ini. Konsep Gotong yang dibedakan itu kemudian menghilang akibat tidak ada lagi sistem kerajaan.
Pada tahun 1964, telah disepakati penamaan Gotong Tikkal dan memiliki hiasan berupa doramani, rantei gotong, dan taring harimau.
Dari tahun 1964 itu, penggunaan Gotong bagi kaum laki-laki tidak ada lagi pembagian berdasarkan kelas sosialnya. Sehingga Gotong bisa digunakan oleh siapa saja serta telah menjadi aksesoris tradisional milik masyarakat Simalungun.