LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. SEPAKBOLA

Ini suka duka suporter Persib saat membuat spanduk

"Yang bikin pertama tulisan 'Persib Sampai Mati', sampai dinyanyikan oleh Band Virus," katanya.

2015-11-15 11:15:07
Merdeka Bandung
Advertisement

Membentangkan spanduk bertuliskan motivasi untuk memacu semangat, sudah umum dilakukan oleh para suporter sepakbola di mana pun. Pentolan Viking Persib Club (VPC) Yana Umar, menceritakan suka duka membuat spanduk sebelum teknologi memudahkan proses pembuatan.

Tepatnya saat Persib bertanding di liga musim 1997 silam, saat itu tim kebangaannya akan melawan PSMS Medan sebagai musuh bebuyutan.

Kala itu Yana dan rekan-rekannya, termasuk panglima Viking almarhum Ayi Beutik, membuat spanduk raksasa. Kain 15 meter disambungkan menjadi sepanjang 100 meter. Menggunakan tangan, spanduk itu ditulis dengan cat tembok dicampur cat sablon yang menghabiskan puluhan kaleng.

"Waktu itu spanduknya 100 meter, bikinnya dibentang di pinggir jalan, saya sampai seminggu enggak pulang. Tulisannya 'walaupun produk dalam negeri tapi Persib sarat prestasi'," tutur Yana, di Stadion Sidolig, Kota Bandung, sabtu (14/11)

Menurut Yana, spanduk tidak dibuat dengan cara mudah. Saat membuat spanduk, dia ingin tulisan yang ditampilkan harus bisa menjadi motivasi untuk tim.

"Lanjut lagi bikin yang 13 meter, tulisannya 'Apapun Yang Terjadi Tekad dan Janji Sudah Terpatri Maung Bandung Kebanggaan kami'. Itu spanduknya nutupin billboard di tribun utara stadion Siliwangi," ujarnya.

Dia mengaku bangga saat spanduknya bisa melekat di hati para pemain maupun Bobotoh--pendukung Persib--saat itu. Yana mengaku terinspirasi oleh mendiang Ayi Beutik yang membuat tulisan 'Persib Sampai Mati'. "Yang bikin pertama tulisan 'Persib Sampai Mati', sampai dinyanyikan oleh Band Virus," katanya.

Selain itu, Yana mengaku juga terinspirasi dari sang Ayah yang juga menggemari tim Maung Bandung. Dia menuturkan, pada tahun 70-an bahan untuk membuat spanduk masih sulit untuk didapatkan. Meskipun terhalang keterbatasan, Bobotoh saat itu masih mampu memberikan semangat untuk Persib lewat kreativitasnya.

"Dulu denger cerita dari bapak, bikin spanduk catnya diganti sama oli, lalu dibubuhi tanah sama pasir di atasnya biar nempel di tulisannya. Karena saat itu toko kain tutup karena libur, jadinya pakai kain kafan. Kan kalau yang jual kain kafan gak ada libur ya," terang Yana.

Saat ini, kata Yana, Bobotoh bisa lebih berkreasi mendukung Persib. Berbeda dengan zamannya, mulai pengumpulan dana hingga proses pembuatan harus mengeluarkan ekstra tenaga.

"Sekarang harus lebih kreatif, supaya rasa kebersamaan membuat spanduk atau yang lainnya lebih terasa. Namanya juga spanduk ya harus dari kain. Tulisannya pun lebih bagus buatan tangan dari pada print," tuturnya.

Baca juga:
Keripik 'Surabi Sukur' yang laris sampai Papua
Eric Legnini Trio gelar konser di IFI Bandung
Beras ini aman dikonsumsi bagi pengidap diabetes
Akhir November akan diselenggarakan kompetisi Ikan Koi di Bandung
Tampil trendy dengan tas cantik dari Neatly

(mdk/mtf)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.