LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. SEHAT

Kenali Perbedaan Gejala antara DBD dengan COVID-19 pada Anak

Perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Mulya Rahma Karyanti Sp.A(K) menjelaskan perbedaan gejala COVID-19 dan DBD pada anak. Demam dengue biasanya terjadi akut mendadak dan muka mengalami merah khas. Sedang, demam akibat COVID-19 tidak menimbulkan gejala muka merah.

2021-09-01 09:00:00
Kesehatan Anak
Advertisement

DBD dan COVID-19 sama-sama dapat menimbulkan gejala demam pada anak. Walau gejala yang muncul sama, namun keduanya sebenarnya dapat dibedakan.

Perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Mulya Rahma Karyanti Sp.A(K) menjelaskan perbedaan gejala COVID-19 dan DBD pada anak. Demam dengue biasanya terjadi akut mendadak dan muka mengalami merah khas. Sedang, demam akibat COVID-19 tidak menimbulkan gejala muka merah.

Mulya menambahkan, gejala yang dominan pada demam dengue adalah demam kemudian sakit kepala. Sedang, gejala batuk pileknya lebih ringan dibanding pada COVID-19.

Advertisement

"Demam dengue di hari ketiga setelah gigitan nyamuk harus menjadi perhatian penting, karena secara umum demam dengue itu infeksi terjadi di hari ke-3 sampai hari ke-6, itu masuk fase kritis yang bisa rawan di mana bisa meninggal kalau tidak diberikan cairan obat yang cukup," terangnya beberapa waktu lalu.

Demam pada COVID-19 bisa terjadi antara 5 sampai 7 hari disertai batuk pilek yang lebih dominan dan makin tambah sesak, serta saturasi oksigennya menurun, lanjut Mulya.

“Itu dianggap berat untuk kasus COVID-19 pada anak,” jelasnya.

Advertisement

Lebih lanjut ia menjelaskan fase demam dengue antara lain dari hari kesatu sampai hari ketiga adalah fase demam, kemudian fase kritis antara hari ke-3 sampai ke-6, kemudian fase penyembuhan dari fase setelah hari ke-6.

"Pada fase demam ini anak demam tinggi dan biasanya menjadi malas minum sehingga yang harus diperhatikan adalah harus dipantau minumnya jangan sampai anak dehidrasi," ucapnya.

Fase Kritis

Pada fase kritis demam dengue, di antara hari ke-3 sampai hari ke-6 terjadi kebocoran dari pembuluh darah yang bisa menyebabkan syok hipovolemik yang menyebabkan pembuluh darah bocor.

Kalau cairan obat yang diberikan kurang maka kemungkinan akan menyebabkan kematian. Setelah hari ke-6 masuk ke fase penyembuhan.

Berbeda pada kasus COVID-19, pada minggu pertama terjadi demam, kemudian menjelang akhir minggu pertama ini antara hari ke-5 sampai hari ke-7 mulai ada gejala-gejala respiratorik seperti sesak, batuk pilek. Di sinilah tanda-tanda biasanya makin berat.

"Pada infeksi dengue biasanya demam terjadi mendadak tinggi, namun setelah hari ketiga pada saat memasuki fase kritis yang harus diperhatikan adalah jangan sampai anak kekurangan cairan obat karena di fase inilah terjadi kebocoran pembuluh darah yang bisa menyebabkan kematian,” terang dr. Mulya.

“Sedangkan pada COVID-19 demam bisa tinggi tapi bisa disertai dengan batuk pilek dan bertambah sesak. Terutama masa kritisnya adalah pada akhir minggu pertama, di sinilah saturasi oksigen bisa menurun," tandasnya.

Reporter: Ade Nasihudin Al Ansori
Sumber: Liputan6.com

(mdk/RWP)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.