LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. SEHAT

Bukan misteri, ini penjelasan mengapa tawa bisa menular

tak kita akan segera merespon suara tertawa dan memerintahkan otot-otot di wajah kita untuk ikut bergembira.

2016-03-29 20:00:00
Penelitian Kesehatan
Advertisement

Terkadang ketika kita melihat dua orang yang sedang tertawa menanggapi sebuah lelucon yang sebenarnya sedang tidak kamu dengarkan, namun kita tetap tertawa. Kita tak tahu menertawakan apa, namun kita tetap tertawa.

Berdasarkan hasil penelitian, memang benar bahwa tertawa itu menular. Otak kita akan segera merespon suara tertawa dan memerintahkan otot-otot di wajah kita untuk ikut bergembira.

Sophie Scott, seorang ahli saraf di University College London, menyatakan bahwa ketika kita berbicara kepada seseorang, seringkali kita meniru perilakunya, meniru kata yang dipakainya, bahkan meniru gestur yang dipakainya. Dan hal tersebut ternyata juga bekerja pada tawa juga.

Advertisement

Hal ini tak selalu bekerja kepada orang lain, namun otak kita akan selalu merespon tawa dengan tawa pula. Kemampuan kita dalam menahannya ataupun meneruskan impuls tersebut jadi perilaku lain tentu berbeda di setiap orang.

Scott dan beberapa peneliti yang lain melakukan penelitian dengan mengukur respon yang dirasakan oleh partisipan dengan alat pemindai otak fMRI. Beberapa suara seperti suara tertawa dan suara teriakan kejayaan, adalah suara yang positif. Sedangkan suara teriakan serta suara muntah, adalah hal suara yang negatif.

Semua suara tersebut memicu respon di premotor cortical region dari otak, yang secara otomatis mengirim perintah ke otot wajah untuk bereaksi atas suara tersebut.

Advertisement

Respon ini akan makin tinggi kepada suara yang positif, yang berarti suara positif lebih menular ketimbang negatif. Hal ini menjelaskan mengapa kita seketika ikut tertawa jika seseorang tertawa.

Para peneliti juga menguji pergerakan dari otot wajah, ketika diperdengarkan suara tersebut. Jadi seseorang lebih cenderung tersenyum ketika mereka mendengarkan tawa, namun mereka tidak membuat ekspresi tersedak ketika mereka mendengar suara muntahan. Hal ini menunjukkan bahwa otak kita menghindari emosi negatif yang datang melalui suara.

Berdasarkan penelitian ini, Scott percaya bahwa menularnya tawa adalah faktor sosial yang sangat penting di masyarakat. Para peneliti juga percaya bahwa nenek moyang manusia telah mempraktikkan hal ini, yakni tertawa di dalam sebuah kelompok, sebelum mereka menemukan bahasa.

Baca juga:
Benarkah tertawa mampu halau rasa sakit?
Tertawa paling ampuh cegah risiko penyakit jantung
Tertawa terbahak-bahak ampuh tingkatkan sistem kekebalan tubuh
Penderita sinus? Ringankan dengan 5 cara mudah ini
Sering sakit punggung? Redakan dengan meditasi
Ini yang terjadi pada tubuhmu saat perut kosong
Amankan melahirkan dengan metode lotus birth?

(mdk/idc)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.