Motor butut dan kepandaian bersyukur
Tidak ada perasaan sedih atau menyesal memilikinya, bahkan ketika mogok di tengah jalan.
Pada suatu pagi yang cerah, seorang bapak terlihat asyik membersihkan motor bebek kesayangannya di depan rumah. sambil mengelap motornya buatan tahun 1995, dia merasa bersyukur dapat memiliki kendaraan itu.
"Ya Allah, terima kasih ya Engkau sudah memberi saya motor tahun 95. Coba kalau tahun 85, repot merawatnya," gumamnya.
Sambil mengelap, sang bapak membayangkan kisah lalunya dengan motor kesayangannya. Motornya sangat setia, kemanapun dia ingin pergi, motor bebeknya selalu bersedia mengantar. Tidak perduli teriknya matahari atau derasnya hujan.
Bahkan ketika mengebut di jalanan hanya demi mengejar waktu yang semakin sempit, motor kesayangannya tetap bersemangat menyalip di antara deru dan polusi kendaraan lain. Walau tetap kalah cepat dibanding dengan motor keluaran baru. Namun semua itu disyukuri pemiliknya. "Bagus sih, jadi selamat," batinnya.
Sudah lebih dari 17 tahun motor bebek itu menemani sang pemiliknya. Tidak ada perasaan sedih atau menyesal memilikinya, bahkan ketika mogok di tengah jalan, sang pemilik tidak merasa malu untuk mendorongnya. Berbeda cerita jika yang mogok adalah motor sport yang besar, selain berat tentunya juga malu untuk menuntunnya.
Di tengah keasyikan mengelap motor kesayangannya, tiba-tiba sang bapak berdoa dengan lirihnya. Meminta kepada Allah SWT untuk dimudahkan membeli mobil, bukan untuk dirinya sendiri, tetapi semata-mata untuk membahagiakan orang tuanya. Meski dirinya sendiri yakin tidak akan mampu untuk mewujudkan keinginannya itu, karena keterbatasan yang dimiliki.
"Kalau saya tidak pantas punya mobil, belum pantes dikasih mobil, liat saja emak saya ya Allah. Saya ingin memuliakan emak. Saya ingin emak bisa pulang kampung, dengan mobil yang saya beli. Kalo bisa yang ada sunroofnya, supaya emak bisa dadah pas masuk kampung. Tawanya Emak, adalah kesenangan saya. Supaya Emak mau pipis, mau mampir makan, bisa berenti kapan saja. Kalau naik bus, tidak bisa," pintanya.
Intinya dalam hidup adalah bagaimana kita dapat pandai bersyukur. Bersyukur terhadap apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Insya Allah dengan menjadi hamba yang pandai bersyukur, Allah akan menambah kenikmatan kepada kita semua, amin.
Oleh Yusuf Mansur.(mdk/war)