Ini alasan Sunan Ampel sarankan Raden Patah tunda serang Majapahit
Saran dari Sunan Ampel ditentang oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Giri.
Sunan Ampel alias Raden Rahmat adalah salah satu orang yang menjadi pencetus berdirinya Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam di Tanah Jawa pada 1475. Amanat ini dia titahkan kepada Raden Patah yang merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit.
Kendati demikian, dalam mendirikan kerajaan ini, Sunan Ampel tetap menjaga stabilitas Tanah Jawa yang saat itu masih dipegang oleh Kerajaan Majapahit. Oleh karen itu, dia memberi fatwa agar Raden Patah, sultan pertama di Demak, untuk tidak memberontak pada Majapahit.
Alasan Sunan Ampel ini, cukup masuk akal melarang pertumpahan darah. Selain Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V adalah ayah kandung Raden Patah, kerajaan yang didirikan Raden Wijaya itu, tengah di ambang kehancuran sehingga akan runtuh dengan sendirinya.
"Sebagai selaku sesepuh sekaligus mufti dari Dewan Wali atau Wali Songo, fatwa Sunan Ampel ini menjadikan Raden Patah dan para anggota Dewan Wali lain tunduk dan patuh. Tidak ada pertumpahan darah di Majapahit, dan Kerajaan Demak tetap berdiri," terang Giman orang yang mendalami sejarah Sunan Ampel kepada merdeka.com, Surabaya, Senin (13/7).
Giman mengisahkan saat Kerajaan Demak Berdiri, para wali muda seperti Sunan Giri, Kalijaga dan lain-lainnya lebih menginginkan agar Raden Patah segera merebut kekuasaan Majapahit dalam tempo sesingkat-singkatnya.
"Tapi menurut Sunan Ampel, tahta Majapahit tak perlu direbut secara langsung, karena sesungguhnya, kerajaan itu sudah keropos dari dalam. Meski tak diserang, Majapahit akan segera runtuh. Sayangnya, meski patuh, para wali muda menganggap Sunan Ampel terlalu lamban mengambil sikap terhadap Majapahit," tutur Giman.
Rekan Giman, Abdul Rahman, mengatakan Sunan Ampel tidak ingin di kemudian hari, Raja Demak Bintoro dianggap durhaka kepada orang tuanya, Prabu Brawijaya V atau Bhre Kertabhumi.
"Sunan Ampel memerintahkan Raden Patah untuk sabar menunggu sambil menyusun kekuatan Demak. Kata Sunan Ampel pada Raden Patah saat itu, tak lama lagi Majapahit akan runtuh diserang para adipatinya. Pada saat itulah Raden Patah berhak merebut warisnya sebagai pewaris sah Majapahit," turunya.
Fatwa Sunan Ampel ini pun terbukti, di Tahun 1478 Brawijaya V tewas. Majapahit diserang Ranawijaya dan memindahkan pusat pemerintahannya di Daha. Ranawijaya mengklaim dirinya sebagai penguasa Majapahit, Daha dan Jenggala. Saat peristiwa itu, Sunan Ampel sudah wafat dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel.
Setelah Sunan Ampel wafat, Sunan Kalijaga diangkat sebagai penasehat politik Kerajaan Demak. Sementara wali mufti, diserahkan kepada Sunan Giri, dan memerintah Giri Kedaton dengan gelar Prabu Satmoto.
Dikisahkan Sunan Giri memiliki sikap tegas terhadap Majapahit. Dia menyetujui penyerangan merebut kekuasaan Majapahit dari tangan Ranawijaya di Daha. Dengan demikian tamatlah kisah kejayaan Majapahit, diganti Demak Bintoro, kerajaan Islam penguasa Nusantara hingga Tahun 1548.(mdk/rep)