Asal-usul kiswah, kain penutup bangunan suci Kabah
Jamaah haji Indonesia pernah nekat mengguting kiswah demi kesembuhan cucunya.
Kiswah atau kain penutup Kabah menjadi buruan para jamaah saat haji dan umroh. Mereka berlomba untuk menciumi kain berwana hitam ini, agar mendapat berkah. As-Sirah Al-Halabiyyah menyebutkan dulu Mamun Al-Abbasi memasang kain kiswah berupa sutera merah, sutera putih dan qubathi (kain putih tipis dari Mesir).
Masing-masing kain dipasang di hari yang berbeda-beda, "Sutera merah dipasang pada hari tarwiyah (hari kedelapan Dzulhijjah), qubathi dipasang pada awal bulan Rajab, sedangkan sutera putih dipasang pada hari ke-27 Ramadan," ujar Abdurrahman Al Baghdady dalam buku peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Ramadhan, Senin (13/7).
Kemudian di zaman pemerintahan Mutawakil Al-Abbasi kiswah diganti dengan sutera hitam, model ini terus digunakan dalam waktu lama. Pergantian kiswah secara rutin terjadi di zaman Usman bin Affan ra.
"Pada tanggal 27 Ramadan tahun 24 Hijriah Kabah mulai diganti kiswahnya dua kali pada satu tahun. Kebiasaan ini terus berlanjut pada masa-masa Islam sesudahnya,".
Kiswah hanya dipakai satu kali setelah itu diganti dengan kiswah yang baru. Di Arab banyak orang yang menggunting kiswah yang sudah tidak terpakai sebagai hiasan. Bahkan beberapa orang pernah nekat menggunting kiswah karena mempercayai khasiat kain hitam tersebut.
Hal ini pernah dilakukan jamaah haji asal Indonesia, Nurjannah. Dia nekat menggunting kiswah untuk dibawa pulang ke Indonesia dan sebagai obat bagi cucunya yang sakit. Nurjannah sempat diinterogasi polisi Arab namun akhirnya dibebaskan karena ketidaktahuannya.