Tangkisan Teman Ahok kredibilitasnya dihajar bertubi-tubi
Banyak strategi yang dilakukan Teman Ahok dinilai sudah membohongi orang banyak.
Paulus Romindah, Richard Soekarno, Husnul dan Romindo membeberkan borok pengumpulan satu juta KTP yang dilakukan Teman Ahok, barisan relawan pendukung calon petahana Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Mereka mengaku sudah dipecat dari Teman Ahok. Lima orang mantan relawan Teman Ahok mengungkap kebohongan atas suksesnya 1 juta Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok). Menurut Juru Bicara Teman Ahok, Singgih Widyastomo mengaku kecewa karena salah seorang berinisial R pernah dibantu. Teman Ahok merasa ada penggerak lima orang mengaku mantan relawannya mengumbar pelbagai tudingan tentang manipulasi KTP. Mereka menyebut bahwa para penggerak juga berasal dari partai politik. Sepekan terakhir, relawan Teman Ahok diterpa kabar tak sedap. Banyak yang meragukan kredibilitas mereka dalam mengumpulkan KTP dukungan untuk calon petahana Basuki Tjahaja Purnama.
Richard menuding Teman Ahok menggunakan segala strategi demi memenuhi target 1 juta KTP. Banyak strategi yang dilakukan Teman Ahok dinilai sudah membohongi orang banyak. Salah satunya dari sistem barter.
Contohnya, KTP yang dikumpulkan dari wilayah Jakarta Utara, pada bulan berikutnya digunakan untuk pendataan pengumpulan KTP di wilayah Jakarta Selatan. KTP itu dikirim dengan menggunakan jasa ojek online.
Dia juga mencontohkan culasnya proses pengumpulan KTP yang dilakukan Teman Ahok. Dia menyebut istilah pengumpulan KTP seperti berdagang. Artinya ada kemungkinan, satu nama dihitung beberapa kali.
"KTP satu orang bisa dimasukkan dari utara, bulan depan dari Timur, bulan depan masukan lagi dari barat. Ada verifikasi, dicoret, tapi banyak yang lolos. Karena verifikasi random," kata dia.
Namun Teman Ahok langsung memberikan klarifikasi terkait hal itu. Menurut Juru Bicara Teman Ahok, Singgih Widyastomo, pengumpulan 1 juta KTP sudah dilakukan sesuai prosedur.Ditusuk dari belakang
"Dulu yang berinisial R minta tolong waktu istrinya meninggal dengan nangis-nangis, karena dia tidak memenuhi target dan tidak nyetor selama dua minggu. Tapi kini dia malah nusuk dari belakang," ujar Singgih di Markas Besar Ahok, Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (22/6).
Selain itu, seluruh para relawan Teman Ahok pun kecewa atas perbuatan kelima mantan Teman Ahok tersebut.
"Kita ada group medsos di Posko Teman Ahok. Semua posko marah. Semua bilang kelima orang itu kurang ajar, kok mereka tega yah nusuk dari belakang," ujarnya.Dilakukan pendukung Jokowi
"Kami tidak berani sebutkan namanya. Ormas itu berbasis parpol, pendukung Jokowi juga," kata Sigit di Markas Besar Ahok, Jakarta, Rabu (22/6).
Bagi Teman Ahok mudah saja melihat bahwa para barisan sakit hati itu digerakkan pihak tertentu. Sebab, lima orang itu mampu melakukan konferensi pers di kafe. "Sekarang mereka kok sanggup konferensi pers di kafe itu," ungkapnya.
Sigit makin curiga atas sebuah pernyataan yang berawal dari seorang anggota DPR. Anggota dewan itu sempat menyebut bahwa akan ada kabar mengejutkan bagi Teman Ahok.
"Mengutip politisi DPR yang mengatakan 14 jam ke depan ada kabar baru dari Teman Ahok. Entah kebetulan apa tidak, sekarang kabar itu kami terima, kasus 30 miliar belum selesai, isu lain sudah ada lagi," ujarnya.Bantah curang kumpulkan 1 juta KTP
Juru Bicara Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas, mengatakan, apa yang mereka hasilkan saat ini 1 juta KTP adalah hasil jerih parah. Mereka menolak keras bila disebut telah melakukan kecurangan dalam mengumpulkan KTP dukungan.
"Kalau yang diserang personal kita masih haha hihi saja. Tapi kalau sifatnya mendeligitimasi satu juta KTP yang sudah pernah kita kumpulkan artinya dia sudah mendelegitimasi ratusan orang yang sudah menyediakan waktu luang, menyediakan tenaga buat Teman Ahok," tegasnya dalam konferensi pers di Sekretariat Teman Ahok, di Jakarta Selatan, Rabu (23/6).
Di tempat yang sama, juru bicara Teman Ahok, Singgih Widiyastono menilai bahwa acara konferensi pers yang dilakukan mantan relawan Teman Ahok di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, hanyalah relawan barisan sakit hati. Pasalnya, kelima orang tersebut telah dipecat pascamelakukan pemalsuan data.
"Mereka ini kalau kami sebut adalah relawan barisan sakit hati. Di mana tiga di antara mereka itu sudah kami pecat sejak lama. Alasan kami karena mereka memalsukan data," jelas Singgih.