LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

Survei LSI Denny JA: Elektabilitas Jokowi pasca Pilkada naik

Elektabilitas capres petahana Joko Widodo mengalami kenaikan pasca Pilkada Serentak 2018. Dalam survei LSI Denny JA bulan Juli, elektabilitas mantan Gubernur DKI Jakarta itu naik menjadi 49,30 persen dari 46 persen pada bulan Mei.

2018-07-10 15:13:49
Survei LSI Denny JA
Advertisement

Elektabilitas capres petahana Joko Widodo mengalami kenaikan pasca Pilkada Serentak 2018. Dalam survei LSI Denny JA bulan Juli, elektabilitas mantan Gubernur DKI Jakarta itu naik menjadi 49,30 persen dari 46 persen pada bulan Mei.

"Ada tren kenaikan elektabilitas Jokowi sebagai petahana pasca pilkada, namun sebagai petahana masih di bawah 50 persen tidak terlalu baik," ujar peneliti LSI Denny JA Adjie Alfaraby saat memaparkan hasil survei di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (10/7).

Survei nasional dilaksanakan setelah pergelaran Pilkada Serentak 27 Juni 2018, dari 28 Juni sampai 5 Juli. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan responden 1.200 orang. Survei memiliki margin of error kurang lebih 2,9 persen. Survei ini juga dilengkapi dengan focus group discussion, analisis media dan wawancara mendalam.

Advertisement

Adjie menuturkan kenaikan elektabilitas tersebut tidak begitu dipengaruhi hasil Pilkada. Meski, calon gubernur terpilih di wilayah Jawa terafiliasi dengan Jokowi. Menurutnya, kenaikan itu tak lain berkat persepsi terhadap kinerja semata.

"Memang ada sejumlah daerah yang istilahnya calon Jokowi menang dan itu daerah besar jabar jateng jatim namun kalau kita lihat terhadap elektoral Jokowi sebetulnya ada impact-nya tapi tidak terlalu signifikan," jelas Adjie.

Kenaikan elektabilitas tersebut pun belum aman bagi Jokowi lantaran baru mengantongi elektabilitas di bawah 50 persen. Adjie menjelaskan mengapa lonjakan tersebut tidak terlalu besar karena masyarakat masih memiliki persepsi kurang dalam isu ekonomi.

Advertisement

"Isu ekonomi publik tidak terlalu puas dalam bidang ekonomi, dalam infrastruktur memang oke, tapi tidak berdampak langsung. Yang diinginkan publik hal mendasar seperti sembako, masyarakat merasakan lebih sulit. Kedua lapangan kerja, persepsi publik kepada Jokowi rendah. Isu ini mengapa elektabilitas tidak signifikan naik," jelasnya.

Sementara, elektabilitas lawan Jokowi cenderung stagnan. LSI Denny JA menggabungkan elektabilitas calon lawan Jokowi. Pada bulan Mei elektabilitas gabungan itu 44,70 persen. Pada bulan Juli hanya naik menjadi 45,20 persen.

"Elektabilitas lawan jokowi cenderung stagnan. Ini gabungan calon penantang Jokowi yang kita kumpulkan ada Prabowo, Anies, AHY, Muhaimin dan nama lain kita uji dan hasil kita kumpulkan," kata Adjie.

Temuan lainnya, pemilih yang menentukan pilihannya cenderung menurun. Pada bulan Mei jumlah pemilih yang belum menentukan sebanyak 9,30 persen. Pada Juli turun menjadi 5,50 persen.

Baca juga:
Jokowi dinilai butuh cawapres dekat dengan Islam tapi non sektarian
Surya Paloh soal nama cawapres Jokowi: Bisa yang ramai sekarang atau jarang disebut
Tifatul ingatkan Gerindra: Tidak bisa ditawar, cawapres harus dari PKS
PAN nilai Prabowo-AHY tidak cocok karena sama-sama dari militer
Amien Rais sindir TGB keluar dari jalan Allah, Ngabalin sebut salah alamat
Wapres JK soal manuver TGB: Politik bisa berubah, kepentingan tidak

(mdk/bal)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.