LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

PKS: Rakyat Bisa Nilai 4 Tahun Jokowi Gagal Wujudkan Janji

Survei Median menyebutkan, selisih elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandiaga hanya 9,2 persen. PKS menilai, hal itu terjadi karena rakyat sudah paham Jokowi gagal wujudkan janji kampanye di Pilpres 2014 lalu.

2019-01-22 17:52:17
Pilpres 2019
Advertisement

Survei Median menyebutkan, selisih elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandiaga hanya 9,2 persen. PKS menilai, hal itu terjadi karena rakyat sudah paham Jokowi gagal wujudkan janji kampanye di Pilpres 2014 lalu.

Direktur Pencapresan PKS, Suhud Aliyuddin mengatakan, survei Median semakin memperlihatkan bahwa elektabilitas petahana mentok di bawah 50 persen. Sementara trend elektabilitas Prabowo-Sandi terus mengalami peningkatan.

"Hal itu menambah keyakinan kami bahwa peluang menang sangat besar. Masyarakat sudah bisa menilai kinerja Pak Jokowi dalam 4 tahun ini gagal mewujudkan janji-janjinya. Karena itu tidak mudah bagi Pak Jokowi untuk menaikkan elektabilitas di sisa masa kampanye," kata Suhud kepada merdeka.com, Selasa (22/1).

Advertisement

Juru Debat Prabowo-Sandiaga ini pun akan fokus menggarap pemilih mengambang di sisa kampanye yang ada saat ini. Dia menargetkan, Prabowo-Sandiaga menang besar pada 17 April mendatang.

"Di masa kampanye ini kami fokus memastikan pemilih yang masih galau agar swing voters menjatuhkan pilihan pada pasangan Prabowo-Sandi. Kami juga berusaha agar selisih kemenangan bisa lebih besar," tutup Suhud.

Dalam survei median, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf meraih 47,9 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga 38,7 persen. Jarak antar kedua pasangan ini hanya sekitar 9,2 persen.

Advertisement

Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Said Didu juga membeberkan sejumlah janji kampanye Jokowi pada 2014 yang dianggap gagal diwujudkan. Menurutnya, banyak janji yang tak dilaksanakan Jokowi.

"Janji kampanye tidak dilaksanakan maka itu kebohongan. Tapi kalau dilaksanakan tapi tidak tercapai itu bukan kebohongan," jelasnya dalam diskusi bertajuk 'Jejak-jejak Kebohongan Jokowi?' di Kantor Seknas Prabowo-Sandi di Jl HOS Cokroaminoto No 93, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (22/1).

Dia melanjutkan, salah satu kebohongan Jokowi adalah tidak akan berutang dan tak akan mengimpor pangan dari luar negeri. Menurutnya, hal paling bahaya adalah kebohongan yang ditutup dengan kebijakan.

"Saya tidak akan utang ke luar negeri, itu bohong besar. Saya tidak akan impor pangan dari luar negeri, itu juga bohong," ujar Said.

Lalu, kebohongan selanjutnya adalah Mobil Esemka. Dia mengatakan, capres nomor urut 02 Prabowo Subianto pun menjadi korban kebohongan mobil Esemka tersebut. Said mengaku pernah didorong untuk mempromosikan mobil tersebut. Namun dia tegas menolak.

"Saat saya melawan kebohongan pada saat itu mobil Esemka, saya Ketua Persatuan Insinyur Indonesia, Pak Bapak endors lah ini. Tapi saya gak mau karena menurut saya ini kebohongan. Esemka itu adalah kebohongan," ujar Said Didu.

"Pak Prabowo juga korban saya rasa karena dia beli 5 biji," tambahnya.

Bukan cuma Jokowi, Said Didu bakal melawan jika pun Prabowo-Sandi melakukan kebohongan. "Saatnya negara ini dihentikan dari kebohongan. Saya ingin membasmi pencitraan berbasis kebohongan," tegasnya.

Lebih jauh, dia bercerita soal rakyat Amerika Serikat yang lebih memilih Donald Trump ketimbang Hillary Clinton. Menurutnya, warga Amerika sangat menghormati moral yang jauh melekat pada Hillary dari pada Trump.

Namun, rakyat Amerika melabuhkan dukungan kepada Trump karena memiliki komitmen kuat untuk melindungi negara. Dari situ, Said berpandangan, bila orang moralnya bagus tapi tak ada daya juang untuk melindungi negara akan percuma.

"Saya tanya kenapa memilih Trump. Jawaban mereka, negara kami terancam, sehingga butuh pemimpin yang menyelamatkan negara kami. Gedung ini dibeli China, itu dibeli China. Kalau Trump tidak memimpin maka China akan membeli," terang Said.

Baca juga:
KPU Minta Capres-cawapres Tak Cuma Andalkan Debat, Tapi Kampanye Tatap Muka
Kiai NU Jatim Ingatkan Bahaya Hoaks di Tahun Politik
Belum Menang, Demokrat Sudah Ajak Media Daftar Tur Istana Bareng Prabowo
JK Tak Tahu Asal Duit Rp 2 M Jokowi Buat Borong Sabun Cuci Piring
KPU Akan Tambah Durasi Waktu Debat Capres
Kubu Jokowi Tak Heran Suara Prabowo Jadi Tinggi di Survei Median, Seperti 2014
Kubu Jokowi Tegaskan BPN Tak Perlu Ragukan Netralitas Najwa Shihab

(mdk/rnd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.