LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

Pemilu 2019, Pemilih Partai Nasionalis Diprediksi Mengalihkan Dukungan

Pemilu 2019 merupakan pertama kalinya pemilu legislatif digelar serentak bersama pemilihan presiden. PDIP dan Gerindra sebagai partai utama pengusung capres-cawapres paling menikmati coattail effects. Namun diperkirakan, preferensi pemilih nasionalis akan bergeser dan mengalihkan dukungan.

2019-03-17 13:37:00
survei
Advertisement

Pemilu 2019 merupakan pertama kalinya pemilu legislatif digelar serentak bersama pemilihan presiden. PDIP dan Gerindra sebagai partai utama pengusung capres-cawapres paling menikmati coattail effects. Kedua-duanya dapat dikelompokkan dalam spektrum partai nasionalis yang berpotensi menjadi partai dominan di parlemen mendatang. Namun diperkirakan, preferensi pemilih nasionalis akan bergeser dan mengalihkan dukungan.

"Suara PDIP dan Gerindra memang mengalami peningkatan signifikan dibandingkan hasil Pileg 2014," ungkap Direktur Eksekutif INDOMETER (Barometer Politik Indonesia), Leonard Sb, melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (17/3).

Indometer menggelar survei elektabilitas parpol 1-7 Maret 2019, dengan jumlah responden 1.280 yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan secara acak bertingkat (multistage random sampling), dengan margin of error ±2,98 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pendalaman kajian dilakukan melalui focus group discussion dengan mengundang pakar terkait.

Advertisement

Temuan survei Indometer menunjukkan elektabilitas PDIP mencapai 23,5 persen, sedangkan Gerindra 13,4 persen. Pada Pileg 2014, suara PDIP tidak mencapai 20 persen, sementara posisi Gerindra masih di bawah Golkar.

Menurut Leonard, faktor presidential threshold yang mengunci jumlah pasangan calon hanya dua pasang memberi keuntungan bagi kedua partai politik. PDIP diperkirakan akan menjadi partai pemenang pemilu, disusul Gerindra sebagai runner up. Di sisi lain, Pemilu 2019 juga akan menjadi akhir dari kejayaan Golkar.

"Sejak pemilu pertama pasca-reformasi Golkar selalu menempati peringkat pertama atau kedua, baru kali ini Golkar tergeser ke posisi ketiga, dengan elektabilitas 10,2 persen," jelas Leonard.

Advertisement

Posisi Golkar juga dibayangi oleh PKB, dengan elektabilitas 8,9 persen. Menurut Leonard, PKB sedikit banyak diuntungkan oleh figur Ma'ruf Amin sebagai cawapres. Dengan latar belakang NU yang menjadi basis massa tradisional, posisi PKB relatif lebih aman dibanding Demokrat.

"Berkebalikan dengan hasil Pileg 2014, PKB juga berpeluang menggeser posisi Demokrat yang meraih elektabilitas 6,3 persen, meskipun masih termasuk lima besar," papar Leonard.

Posisi papan tengah didominasi oleh partai-partai Islam, yaitu PPP (3,9 persen), PAN (3,7 persen), dan PKS (3,4 persen). Lalu ada partai Nasdem yang memimpin elektabilitas papan tengah sebesar 4,1 persen. Dua partai baru menyusul, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Perindo berhasil menembus papan tengah. PSI meraih elektabilitas 3,6 persen, sedangkan Perindo menjadi juru kunci dengan elektabilitas 2,8 persen.

Sisanya adalah partai-partai yang diprediksi tidak bakal lolos ke Senayan, yaitu Hanura (1,1 persen), PBB (0,9 persen), PKPI (0,8 persen), Berkarya (0,5 persen), dan Garuda (0,2 persen).

"Hanura menjadi satu- satunya partai lama yang bakal terpental tidak mendapat kursi, demikian pula dengan PBB dan PKPI yang sejak 2009 tidak meraih kursi lagi di Senayan," kata Leonard.

Sedangkan Berkarya dan Garuda menjadi partai baru yang bakal tersisih oleh ambang batas parlemen (parliamentary threshold). "Temuan menarik adalah capaian PSI sebagai partai baru yang berhasil menyejajarkan diri dengan partai- partai papan tengah," tutur Leonard.

Jika melihat hasil survei sejumlah lembaga sejak dimulainya musim kampanye pada September 2018 lalu, elektabilitas PSI cenderung mengalami peningkatan. Dari kisaran nol koma selama tiga bulan pertama, bergerak merayap ke 1,5 hingga 1,7 persen pada pergantian tahun. Dalam dua bulan, Februari-Maret 2019, elektabilitas PSI melonjak dari 2,8 persen menjadi 3,6 persen.

"Dua partai utama, PDIP dan Gerindra mengalami peningkatan dalam tiga bulan pertama, tetapi trennya kemudian menurun," jelas Leonard.

Sedangkan tiga partai besar lainnya, yaitu Golkar, PKB, dan Demokrat cenderung stabil. Demikian pula dengan partai-partai papan tengah, termasuk Nasdem dan Perindo. Menurut Leonard, besar kemungkinan terjadi migrasi pemilih dari partai nasionalis utama yaitu PDIP dan Gerindra, di mana diperkirakan PSI mendapat limpahan paling banyak.

Menurut dia, sikap PSI mendukung capres Jokowi dan serangan gencar yang dilakukan terhadap oposisi memberi efek elektoral signifikan. Sebagai bagian dari koalisi, PSI tidak segan-segan melancarkan kritik keras seputar isu korupsi dan intoleransi. "Masih perlu pendalaman lebih lanjut, tetapi tampak terjadi pergeseran prefensi pemilih nasionalis," pungkas Leonard.

Baca juga:
Polri Siaga Cegah Teror Seperti Selandia Baru Jelang Pilpres 2019
Kampanye Damai Ajak Masyarakat Jaga Pemilu dari Hoaks
KPAI Sebut Jumlah Laporan Pelibatan Anak di Pemilu 2019 Menurun
Empat Lembaga Negara Deklarasikan Pemilu Ramah Anak
Deklarasi Pemilu 2019 Ramah Anak, Jangan Salahgunakan Anak dalam Kegiatan Politik
NasDem Dorong Pemerintah Tingkatkan Daya Jual UMKM Ekspor

(mdk/bal)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.