LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

PDIP: Tugu Pembebas Lapangan Banteng Pengingat Tugas Lepaskan Belenggu Penindasan

Hasto mengajak seluruh kader PDIP dan rakyat Indonesia agar berani melihat keluar atau melaksanakan outward looking. Sebab, Pancasila sebagai falsafah mengamanatkan tugas bagi Indonesia untuk mengatasi ketidakadilan yang ada di dunia.

2020-08-17 21:02:00
PDIP
Advertisement

PDI Perjuangan menggelar perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-75 di lapangan Banteng, Jakarta, Senin (17/8). Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, upacara di lapangan banteng sebagai simbol pengingat bahwa Indonesia masih menghadapi rantai belenggu ketidakadilan.

Hasto menuturkan, berdiri tugu pembebasan dengan patung sosok pemuda Indonesia pejuang di lapangan banteng.

"Di Tugu Pembebas inilah sekali lagi, kita diingatkan tugas dari kemerdekaan Indonesia. Bahwa Indonesia dan dunia saat ini masih dihadapkan pada rantai belenggu ketidakadilan dan sekaligus bagaimana tanggung jawab Indonesia bagi umat manusia," katanya, Senin (17/8).

Advertisement

Dia menjelaskan, jauh sebelum Indonesia Merdeka, sang proklamator Bung Karno telah memikirkan bagaimana kemerdekaan Indonesia itu berdiri kokoh di atas falsafah bangsa yang benar-benar khas Indonesia. Pancasila itulah yang menjadi falsafah bangsa Indonesia.

Lebih lanjut, Hasto mengatakan, Pancasila tidak hanya sebagai meja statis dimana Indonesia dibangun. Pancasila, kata dia, hadir sebagai bintang pengarah dinamis dimana cita-cita membangun persaudaraan dunia yang berdiri di atas tatanan dunia baru yang bebas dari imperialisme dan dikumandangkan.

Dia menjelaskan, pada tahun 1945, Bung Karno memiliki tesis bahwa kapitalisme selalu menciptakan krisis dan suatu saat Eropa Barat dan Amerika Serikat akan mengalami krisis ekonomi bersamaan.

Advertisement

Hasto mengatakan, gagasan melakukan reformasi PBB dan usulan agar piagam PBB diganti dengan Pancasila tetap relevan.

"Mengapa? Pancasila mengandung falsafah ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan atau persatuan, musyawarah atau deliberative democracy, dan keadilan sosial," ujarnya.

"Landasan falsafah tersebut selalu relevan, terlebih dalam realitas kehidupan antar bangsa yang diwarnai oleh ketidakadilan; penjajahan di berbagai aspek kehidupan; terorisme; krisis di Timur Tengah, Afganistan, dan juga ketegangan di Laut China Selatan. Dunia memerlukan direction. Dunia memerlukan paradigma baru agar terhindar dari krisis," jelas Hasto.

Karenanya, Hasto mengajak seluruh kader PDIP dan rakyat Indonesia agar berani melihat keluar atau melaksanakan outward looking. Sebab, Pancasila sebagai falsafah mengamanatkan tugas bagi Indonesia untuk mengatasi ketidakadilan yang ada di dunia.

"Terlebih dengan krisis yang bertentangan dengan cita-cita kemanusiaan. Bahwa tugas sejarah agar Indonesia menjadi pemimpin di antara bangsa-bangsa Asia Afrika hingga ke Amerika latin, dan selanjutnya mewarnai peradaban dunia, adalah tugas yang harus kita tunaikan," pungkas Hasto.

Dalam upacara tersebut, Hasto ditemani jajaran DPP PDIP seperti Sri Rahayu dan Nusyirwan Soejono. Hadir juga jajaran DPD PDIP Jakarta yang dipimpin Ketuanya Adi Wijaya. Peserta upacara yang dibatasi 75 orang sejalan dengan protokol covid-19, memakai pakaian adat Nusantara.

(mdk/fik)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.