Patahkan mitos soal Amerika, Dino & Prabowo sepakat bertemu
Menurut Dino, soal memilih presiden adalah soal kedaulatan. AS tak boleh ikut campur.
Peserta konvensi Capres Partai Demokrat Dino Patti Djalal mengaku terhina dengan pernyataan jika calon presiden Indonesia harus mendapat restu Amerika Serikat.
"Untuk menjadi presiden Indonesia hanya perlu restu dari rakyatnya," kata mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini, Rabu (3/4).
Menurut Dino, soal memilih presiden adalah soal kedaulatan. AS tak boleh ikut campur.
"Ini adalah soal kedaulatan kita. Tidak boleh satu negara pun campur tangan terhadap urusan dalam negeri kita, apalagi dalam memilih presiden," tuturnya.
Dino memastikan bahwa untuk menjadi presiden Indonesia perlu restu AS adalah cuma mitos."Dan sebagai negara berdaulat kita tidak pernah boleh tunduk pada kepentingan asing dan negara mana pun," tegasnya.
Asumsi yang benar, sambung Dino yakni pemerintahan Indonesia yang terbentuk harus mendapat dukungan internasional.
"Namun, dukungan itu harus dibingkai dalam hubungan yang saling menguntungkan dan menempatkan tiap negara dalam posisi yang setara," katanya.
Dalam pemberitaan New York Times pada Jumat (28/3) menyebutkan pada dasarnya Amerika Serikat sangat keberatan apabila Prabowo Subianto menjadi presiden Indonesia.
New York Times menulis bahwa pencalonan Prabowo itu bisa membuat sulit AS terutama pemerintahan Barack Obama.
Tulisan itu juga mengungkit-ungkit kembali permasalahan pelanggaran HAM yang melibatkan Prabowo pada tahun 1998.
Dino dan Prabowo sendiri mengaku bersepakat untuk bertemu. Keduanya mengaku pertemuan tersebut hanyalah tinggal soal waktu. Mereka mencoba membuktikan tak perlu restu AS untuk maju dalam Pilpres.
Baca juga:
Survei: Peserta konvensi Demokrat jeblok semua
Dino ngebet ingin ketemu Prabowo
Hari ini, Dino Patti Djalal isi kuliah umum di Unpad
Besok, SBY dan Pramono Edhie kampanye di Palembang
Dino: Nyepi momentum untuk menjaga kerukunan umat beragama