LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

Narasi Kebencian Semakin Tajam Usai Debat Capres Kedua

Ketegangan konflik pendukung merupakan sesuatu yang biasa terjadi. Tetapi ada yang berbeda dari pemilu 2019. Salah satunya karena banyak narasi kebencian yang diciptakan.

2019-02-23 22:32:00
Pilpres 2019
Advertisement

Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) menggelar diskusi Merawat Keindonesiaan ke XXIII, Sabtu (23/2). Acara diskusi bertajuk "Pemilu 2019 Bebas Konflik: Pendekatan Keamanan dan Intelijen" ini digelar di Resto Ammarin Sudirman, Jakarta Selatan.

Direktur LPI Boni Hargens khawatir adanya konflik antar pendukung dari kedua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden setelah berlangsungnya debat pilpres kemarin. Menurutnya, ketegangan konflik pendukung merupakan sesuatu yang biasa terjadi. Tetapi dia justru melihat ada yang berbeda dari pemilu 2019. Salah satunya karena banyak narasi kebencian yang diciptakan.

"Kita melihat di mana setelah debat capres ada kisruh antara pendukung dari pendukung paslon 01 dan 02," ujarnya di Resto Ammarin, Jakarta, Sabtu (23/2).

Advertisement

"Ketegangan antara pendukung ini biasa diantara pendukung, tapi kami melihat ada perbedaan dari militansinya yang semakin tinggi dalam membangun narasi kebencian," imbuhnya.

Boni berharap semua pihak ikut mengantisipasi agar kemungkinan buruk kekacauan dan konflik antar kedua belah kubu tidak terjadi.

"Diskusi ini sebetulnya mengundang kita untuk mencermati, mengantisipasi, mewaspadai, kemungkinan-kemungkinan adanya kekacauan atau kekisruhan," ucapnya.

Advertisement

Di tempat sama, Peneliti Pertahanan CSIS, Iis Gindarsah juga berpendapat bahwa pemilu 2019 semakin tegang dan berpotensi kisruh karena menjamurnya berita bohong alias hoaks. Menurutnya, pendekatan politik yang dilakukan pendukung berubah menjadi pendekatan keamanan dan hukum.

"Di mana wacana politik yang sejatinya harus dilakukan oleh setiap kontestan mereka kita harapkan untuk berkompetisi pada narasi politik. Tetapi secara faktual, mereka dan pendukungnya menggunakan cara di luar itu," ujarnya.

Potensi kisruh juga bisa lahir dari mobilisasi massa. Sesungguhnya mobilisasi massa hal wajar dalam praktik demokrasi. Namun dia melihat ada sejumlah kelompok yang justru melakukan agitasi politik.

"Sebenarnya normal saja dalam negara demokrasi ada mobilisasi massa. Tetapi saat ini disinyalir ada sejumlah kelompok dan oknum yang melakukan mobilisasi dan agitasi," ucapnya.

Reporter: Suranti Yunidar

Baca juga:
Bawaslu Soal 31 Kepala Daerah Jateng Deklarasi Jokowi: Tidak Ada Pelanggaran Pemilu
Sekjen PDIP: Dukung Jokowi-Ma'ruf Amin Banyak Berkahnya
Erick Thohir Sebut TKN Siap Melaporkan Jika Terjadi Pelanggaran di Munajat 212
Wapres Jusuf Kalla Sebut Doa Neno Warisman Kampanye yang Keliru
Tiru Unicorn, Sandiaga Akan Bentuk Unikop Bernilai di Atas Rp 1 T
Pensiunan TNI di Belakang Para Capres dan Potensi Konflik Pilpres 2019

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.