LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

Mereka meragukan koalisi Merah Putih pendukung Prabowo

Selentingan yang beredar, pembentukan koalisi untuk mengantisipasi adanya partai yang akan membelot ke kubu lawan.

2014-07-15 07:45:00
Prabowo-Hatta
Advertisement

Koalisi Merah Putih berisi parpol poros Prabowo Subianto - Hatta Rajasa , pertama kali dipatenkan di Parlemen, Senayan, Selasa (8/7). Masing-masing ketua fraksi dari parpol tersebut, minus PBB, menandatangani nota kesepakatan. Mereka menyatakan akan menjaga NKRI, memegang teguh Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika.

Prosesi koalisi permanen Merah Putih kemudian berlanjut dengan perjanjian mengikat dibubuhi tanda tangan masing-masing perwakilan parpol di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (14/7).

Selentingan yang beredar, pembentukan koalisi untuk mengantisipasi adanya partai yang akan membelot ke kubu lawan, Jokowi - JK , jika nyatanya hitung resmi KPU menetapkan pasangan nomor urut dua tersebut sebagai pemenang Pilpres 2014.

Namun isu tersebut dibantah oleh Juru Bicara Tim Pemenangan Prabowo-Hatta Tantowi Yahya . "Nggak ada (terkait pindah koalisi). Namanya dugaan. Masa kita bermain dengan dugaan," kata politikus Golkar ini.

Sejumlah pihak meragukan kekompakan parpol dalam koalisi tersebut. Berikut penjelasannya:

Koalisi bisa bermasalah

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Agung Laksono ini menilai koalisi permanen berpotensi memunculkan masalah.

"Kalau sifatnya permanen untuk pemerintahan Prabowo, kalau kebetulan beliau yang terpilih saya kira tidak masalah. Tetapi ketika nanti yang terpilih Pak Jokowi, ini tentu akan ada masalah," kata Agung di Purbalingga, Jawa Tengah, Senin (14/7).

Oleh karena itu, kata dia, koalisi permanen tersebut harus dipertimbangkan masak-masak. Selain itu, dia mengharapkan adanya perubahan-perubahan di masing-masing partai.

Advertisement

Mana tahan Golkar jadi oposisi

Pakar hukum dan tata negara Yusril Ihza Mahendra menyangsikan jika Partai Golkar akan menjadi oposisi di Parlemen, jika pasangan Prabowo-Hatta gagal menjadi presiden dan wakil presiden. Menurutnya, Golkar bukan tipe partai oposisi.

"Wabilkhusus bagi Partai Golkar yg tabiatnya selalu ingin melekat dengan kekuasaan. Mana tahan Golkar jadi partai oposisi," tulis Yusril dalam akun Twitter @Yusrilihza_Mhd, Selasa (14/7) petang.

Advertisement

Kubu Jokowi terbuka pada Golkar

Juru Bicara Timses Jokowi-JK Abdul Kadir Karding menilai mungkin saja Partai Golkar merapat ke kubunya, jika Jokowi-JK menang pilpres. Meskipun, Fraksi Golkar sudah deklarasi permanen poros Prabowo-Hatta.

"Saya kira soal bekerja sama tentu di politik ini harus kita buka ruang untuk komunikasi dan kerja sama dengan siapa saja," ujar Karding dalam pesan singkat, Jumat (11/7).

Ical lengser, Golkar bisa cabut dukungan ke Prabowo

Agung Laksono menilai koalisi permanen harus dipertimbangkan masak-masak. Menurutnya, dukunga Golkar ke Prabowo bisa dicabut ketika Ical tak lagi menjabat sebagai ketum Golkar.

"Di Partai Golkar sendiri, karakteristiknya selama ini selalu berada pada pemerintah. Jadi, bisa saja ada perubahan-perubahan dan Pak Aburizal Bakrie sudah bicara dengan saya, selama beliau memimpin, ya arahnya seperti itu, Koalisi Merah Putih ke Pak Prabowo, tetapi kalau nanti ada penggantian ketua umum, tergantung ketua umum," kata Agung.

Kesetiaan Golkar dan PPP diprediksi goyang

Pengamat politik Arya Fernandes menilai masih ada beberapa partai yang bisa menghambat pembentukan koalisi, karena sejak awal partai-partai itu sudah bermasalah.

"Ada yang berpotensi goyang yaitu Golkar dan PPP. Karena dulu mereka mereka sempat goyang, proses penetapan mereka sebelum pilpres mengalami perdebatan panjang di internal," paparnya.

"Yang tidak menjadi ancaman adalah PKS, Gerindra, dan PAN. Apapun hasilnya mereka akan tetap berkoalisi, karena sejak awal mereka masuk dan mendukung Prabowo juga sudah relatif mudah. Namun saya kira dari semuanya kita tetap harus menunggu hasil rekapitulasi KPU dulu untuk bisa membayangkan lagi efektivitasnya," imbuh Arya.

(mdk/ian)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.