Mengulas Fakta Sejarah PAN, Hanura dan PPP yang Diprediksi Tak Lolos DPR
Hasil survei itu menyebut PAN hanya meraih suara 1,5 persen, Partai Hanura 0,5 persen dan PPP 3,5 persen.
Pemilihan Umum Legislatif 2019 tak lama lagi akan digelar. Partai-partai politik tengah kerja keras meraih suara pemilih agar lolos ambang batas parlemen sebesar 4 persen.
Kekhawatiran dialami oleh tiga partai besar PAN, Hanura dan PPP yang diprediksi tak lolos ke DPR. Hasil survei LSI Deny JA misalnya. Survei dilakukan pada 18-25 Januari 2019 terhadap 1.200 responden di 34 provinsi di Indonesia dengan margin error 2,8 persen.
Hasil survei itu menyebut PAN hanya meraih suara 1,5 persen, Partai Hanura 0,5 persen dan PPP 3,5 persen. Angka tersebut jelas jauh dari ambang batas parlemen. Dengan begitu ketiga partai tersebut harus membuat strategi yang bagus agar bisa lolos ke Parlemen.
Namun faktanya, tiga partai besar yang sudah lama ikut pemilu seperti PAN, PPP dan Hanura selalu lolos ke DPR. Hasil pileg di luar prediksi survei. Lalu apakah tahun ini prediksi survei meleset atau akurat? Berikut ulasan sejarah tiga partai tersebut:
PAN
Partai Amanat Nasional bukan kali ini saja diprediksi tak lolos ke DPR. Setiap pemilu partai pimpinan Zulkifli Hasan ini kerap diprediksi tak lolos lantaran memiliki suara di bawah ambang batas parlemen. Faktanya setiap pemilu PAN berhasil lolos ke DPR.
Pada Pileg 2009, PAN meraih suara 6,01 persen dengan 43 kursi di DPR. Pada 2014 mendapat suara sebesar 7,59 persen dengan 48 kursi di DPR.
Sekjen PAN Eddy Soeparno tak mempercayai hasil survei tersebut. Dia optimis partainya lolos ke DPR. "Oleh karena itu sekarang saya sih berkeyakinan kami lolos parliamentary threshold," kata dia.
PPP
Pada pemilu 2009 PPP menargetkan 15 persen perolehan suara. Namun target itu meleset karena partai berlambang Kabah itu hanya mendapat 5,32 persen suara dengan 38 kursi di DPR.
Sementara pada Pemilu 2014 lalu, PPP sempat diprediksi hanya mendapat 2,4 persen suara oleh Litbang Kompas. Padahal hasilnya PPP memperoleh 6,53 persen suara dengan 39 kursi di DPR. PPP juga diprediksi tak lolos untuk pemilu 2019. Namun berkaca pada pemilu-pemilu sebelumnya, PPP optimis akan lolos ke Parlemen.
"Kami akan merebut trust atau kepercayaan untuk memenangkan pemilu ini," kata Ketua DPP PPP, Irgan Chairul Mahfiz.
Hanura
Saat Pemilu 2009, Partai Hanura diprediksi tidak lolos ke DPR. Namun sebagai partai baru Hanura yakin lolos ke DPR meski ambang batas parlemen waktu itu 3 persen. Tingginya ambang batas untuk seleksi partai-partai politik yang hendak mengikuti Pemilu. Akhirnya Hanura bisa lolos pemilu 2009 dengan mendapat suara 3,8 persen dengan memperoleh 18 kursi di DPR.
Bukan hanya 2009 saja, pada pemilu 2014 juga partai yang dipimpin Oesman Sapta Odang ini diprediksi tak lolos ke Parlemen. Sama halnya dengan 2009, Hanura tetap optimis bisa meraih kursi di DPR. Dan benar saja, Hanura berhasil melenggang ke Parlemen dengan memperoleh suara 5,26 persen dengan 16 kursi di DPR.
Untuk Pemilu 2019, lagi lagi Hanura diprediksi tak lolos ke Senayan. Hal ini tak membuat kaget, lantaran setiap pemilu selalu diprediksi tak bisa lolos ke DPR. Dalam hasil survei LSI Deny JA yang dilakukan pada 18-25 Januari 2019, Hanura hanya mendapat 0,5 persen yang artinya di bawah amban batas parlemen sebesar 4 persen. Meski begitu Hanura pun tetap optimis bisa lolos ke DPR.
"Sudah sejak (Pemilu) 2009, kami diprediksi tidak lolos, tapi alhamdullilah. 2014 juga diprediksi tidak lolos, tapi alhamdullilah juga lolos," kata Ketua DPP Hanura Innas Nasrullah Zubir.
(mdk/has)