Kritik aksi Densus 88, DPR minta teroris ditangkap hidup
"Dari segi polisi dengan terbunuh semua (para teroris) itu merugikan," ujarnya.
Aksi Densus 88 Mabes Polri dalam penyergapan di Ciputat, Tangerang Selatan, pada malam tahun baru kemarin menuai protes sejumlah kalangan. Penggerebekan yang berlangsung 10 jam itu, tak satu pun teroris berhasil diamankan hidup-hidup.
Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengaku sudah meminta penjelasan soal aksi penggerebekan di Ciputat itu. Menurut dia, pimpinan Polri sudah melakukan sesuai dengan prosedur penangkapan.
"Saya sudah mendapat penjelasan langsung pimpinan Polri bahwa sudah dilakukan sesuai prosedur, peringatan menyerah baik-baik dan diproses hukum se-lazimnya. Dengan demikian, kalau proses hukum seperti itu, kita percayakan kepada yang terjadi, bahwa polisi sudah melakukan secara prosedur sah, sehingga kalau tidak ada pilihan lain, polisi melakukan langkah untuk melumpuhkan," ujar Priyo di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (3/1).
Dia menilai wajar jika Densus memberondong seluruh teroris di dalam penyergapan itu. Hal ini untuk menghindari dampak buruk bagi para anggota Polri yang melakukan penyergapan.
"Menurut saya, kalau polisi telah melakukan sikap sesuai prosedur baku dan sudah bersabar sampai sekian jam dengan negosiasi. Yang tidak berhasil jadi langkah-langkah polisi harus tetap diapresiasi. Harus kita buka peluang mengapresiasi jajaran Densus yang juga mempertaruhkan nyawanya untuk melumpuhkan bentuk-bentuk teror," terang Priyo.
Kendati demikian, politikus asal Golkar ini berharap ke depan Densus 88 bisa menangkap hidup-hidup para pelaku teror. Sebab dengan begitu, Polri bisa mengetahui secara dalam keterangan teroris tentang jaringan-jaringan lain yang bakal menebar kembali aksi teror di Tanah Air.
"Idealnya, ke depan, cara-cara persuasif sehingga dimungkinkan masih hidup, jauh lebih menguntungkan sehingga negara bisa menelisik lebih jauh jaringan itu. Dari segi polisi dengan terbunuh semua itu merugikan," ujarnya.(mdk/mtf)