Koalisi parpol, PKB 'gadis manis' yang jual mahal
"PKB akan bermain di banyak kaki, minimal dua kaki, dua capres terkuat Prabowo dan Jokowi," kata Yunarto.
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum memutuskan koalisi mendukung salah satu calon presiden. Perolehan suara hingga 9 persen versi hitungan cepat membuat posisi tawar PKB cukup tinggi.
Kondisi itu tentu saja membuat Ketua Umum Muhaimin Iskandar leluasa menentukan arah. Calon presiden PDI Perjuangan Joko Widodo sudah sowan untuk mendapat dukungan dari partai kaum Nahdliyin tersebut.
Pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya menilai saat ini PKB bersama partai kelas menengah lain memang sengaja bermain di ranah abu-abu. Bahkan, partai-partai juga tidak hanya berkomunikasi dengan satu parpol.
"PKB akan bermain di banyak kaki, minimal dua kaki, dua capres terkuat Prabowo dan Jokowi," kata Yunarto saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (29/4).
Belum ada kepastian koalisi antarparpol, kata Yunarto, tidak terlepas dari lobi-lobi jatah kursi. Beberapa partai juga mendorong agar kadernya dapat maju menjadi calon wakil presiden.
"Bicara koalisi siapin berapa kursi lebih besar. Kalau PKB kini bicara cawapres," tuturnya.
Menurut Yunarto, tarik ulur masih akan terus terjadi tanpa terlihat di permukaan. Namun, jika melihat komunikasi lebih terbuka peluang PKB akan bersanding dengan partai banteng di pilpres nanti.
"Baca tanda komunikasi politik, saya optimis PKB akan mengarah ke PDIP. Nama JK dan Mahfud disebut cukup kencang sebagai cawapres. Secara story NU punya hubungan baik dengan PDIP," jelasnya.
Jika bicara pragmatis parpol, kata Yunarto, partai-partai akan cenderung merapat ke Jokowi karena berdasarkan survei memiliki peluang besar. "Cak Imin tipikal pemimpin bersifat realistis masuk kekuasaan," tandasnya.
Baca juga:
Cerita para kiai 'king maker'
Rhoma: Saya sudah besarkan PKB & mengantarkan caleg ke Senayan
Rhoma Irama bantah mundur dari bursa capres PKB
Habis manis, Rhoma Irama dibuang PKB?
Jokowi benarkan koalisi dengan PKB sudah hampir final