Kini Demokrat jeblok, Ali Masykur sebut 2014 rakyat menentukan
"Partai Demokrat tidak akan menggunakan 11 calon ini untuk kembali mengangkat popularitasnya," kata Ali Masykur.
Ali Masykur Musa tak ingin berandai-andai soal Partai Demokrat yang mengalami penurunan popularitas karena tersandung kasus korupsi. Sebab, dia yakin rakyat yang bakal menentukan siapa layak menjadi pemimpin.
"Saya tidak bisa memastikan, apakah saya nanti akan keluar sebagai pemenang di konvensi ini. Namun, saya sangat yakin, Partai Demokrat tidak akan menggunakan 11 calon ini untuk kembali mengangkat popularitasnya. Karena saat ini, Partai Demokrat jeblok," kata Ali Masykur Musa, di Surabaya, Kamis (13/2).
Soal kenapa dia memilih Partai Demokrat untuk mencalonkan diri sebagai capres pada 2014 ini, itu adalah sebuah pilihan politik. "Apa-pun partainya, rakyatlah yang menentukan pilihannya. Saya sendiri sudah sangat siap untuk maju," ujarnya.
Sementara dalam gelar Debat Capres Partai Demokrat seri IV di Surabaya ini, yang mengusung tema ketahanan dan keamanan (Hankam), salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) ini mengatakan akan mengusung misi semangat kepahlawanan: Indonesia Adil, Makmur dan Bermartabat.
"Saat ini, kita menghadapi perang besar melawan korupsi, kebodohan, kemiskinan, kerusakan, lingkungan dan sebagainya. Etos kepahlawanan yang terwakili dalam spirit Resolusi Jihad yang meletup di Surabaya dapat kita gali kembali," paparnya.
Menurut dia, di Surabaya misalnya menyimpan sejarah kepahlawanan para pejuang kemerdekaan dalam mempertahankan NKRI. Semangat pengorbanan dan perjuangan demi bangsa dan negara menjadi api penyulut kepahlawanan.
"Etos kepahlawanan ini menjadi spirit para pemimpin di awal kemerdekaan. Namun, etos kepahlawanan ini sekarang menjadi redup. Untuk itu, para pemimpin masa kini harus berani berkorban, berjuang, dan berjihad memberantas berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini," ujarnya.
Dia juga menilai, di era modern ini, komitmen perjuangan yang menjadi ruh para pahlawan sudah tergerus oleh pragmatisme dan politik transaksional.
"Kenapa para tokoh nasional sekarang tidak ada yang mempunyai nama abadi seperti para pendahulu bangsa ini? Karena kita telah melupakan prinsip dasar bernegara, yaitu komitmen untuk menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi," tegas Ketua Ikatan Sarjana NU ini.
Baca juga:
11 Tenda capres Demokrat di Surabaya ambruk disapu angin
Ditanya soal protes Singapura, Gita jawab NKRI harga mati
Pramono Edhie: Jangan cuma blusukan terus cari popularitas
Jika kalah di konvensi, Pramono Edhie pantang jadi kutu loncat
Gita Wirjawan: Presiden harus cool hadapi generasi Justin Bieber