Ini cerita unik massa bayaran saat pemilu
Dukungan massa artifisial itu pada akhirnya banyak menimbulkan persoalan di lapangan, dan tak jarang merugikan parpol.
Namanya juga massa bayaran, partisipasi politik mereka dalam kampanye pemilu pastilah dengan embel-embel. Langkah, suara dan teriakan mereka ada harganya. Pada kampanye nasional PAN di Gelora Bung Karno kemarin, tidak sedikit simpatisan pendukung partai besutan Amien Rais itu yang mengeluh. Salah satunya, Ade warga Tanjung Priok, Jakarta Utara yang mengaku kesal lantaran biaya transportasi dan makan tidak sesuai harapan. Salah satu wanita pingsan setalah kampanye Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) berakhir di Istora Senayan pekan lalu. Dia diduga koordinator massa yang ditugaskan untuk membagikan uang makan dan transportasi. Topik pilihan: PAN | PKPI | Hanura Puluhan simpatisan pendukung Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) kesal lantaran uang yang dijanjikan untuk biaya makan dan transportasi tidak sesuai harapan. Massa akhirnya memilih membuang kaos partai ke jalanan. Partai Hanura menggelar kampanye terbuka di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, 24 Maret lalu. Mirip dengan beberapa kampanye partai lain, partai nomor urut 10 itu sarat dengan politik uang.
Dukungan massa yang artifisial itu pada akhirnya banyak menimbulkan persoalan di lapangan, dan tak jarang merugikan parpol yang 'mempekerjakannya'.
Berikut cerita-cerita unik massa bayaran itu:Massa bayaran PAN kesal tak diberi makan
"Gimana engga kesel dari tadi pagi saya ini. Mana belum makan banyak teman saya juga belum makan," ujarnya di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, (3/4).
Menurut dia, dari koordinator kader partai pimpinan Hatta Rajasa uang yang di iming-imingkan akan diberikan 70 ribu, namun uang tersebut tak sesuai. Oleh karenanya, dirinya pun mengaku kesal.
"Katanya sih 70 ribu tapi nanti dikasih 50 ribu. Ah, tau gini mendingan engga ke sini dah," ujarnya.Korlap massa bayaran pingsan
Wanita yang memakai batik berwarna merah yang juga salah satu tim sukses caleg itu, pingsan usai membagikan uang kepada massa simpatisan PKPI di bus Metromini.
"Lagian kelamaan bagi-bagi uangnya, terus juga itu massa marah-marah mungkin dia shock," ujar pria yang memakai kaos berwarna merah, kepada merdeka.com di Istora Senayan, Jakarta, Jumat, (28/3).
Pria bertubuh gempal ini menjelaskan, massa simpatisan PKPI tidak terima jika dibayar uang Rp 15 ribu. Seharusnya uang tersebut diberikan untuk makan dan transportasi.
Mereka enggak terima. Jadi kaya gitu (marah)," cetus dia.Massa bayaran PKPI buang kaos partai
"Uh, belum jadi aja sudah bohongin rakyat. Gimana sudah jadi (anggota DPR dan DPRD)," ujar salah satu wanita yang tak mau disebut namanya di Istora Senayan, Jakarta, Jumat, (28/3).
Menurut wanita yang berbaju putih ini, partai pimpinan Sutiyoso telah membohongi para simpatisan partainya. Apalagi, dia pun mengaku sudah mengikuti kampanye ini sejak pagi.
"Yah gimana. Saya dari tadi pagi nungguin cuma pengen uang. Katanya mau ngasih Rp 25 ribu tapi malah dikasih Rp 15 ribu," keluh dia.Massa bayaran Hanura harus tanda tangan demi Rp 25 ribu
Menurut Sulaiman (50), warga Rambutan, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, dia terpaksa datang karena ada iming-iming uang sebesar Rp 25 ribu dari salah satu calon legislatif (caleg) yang dikoordinir seorang koordinator lapangan (korlap).
"Dari kampung saya ada 15 orang. Semuanya diangkut pakai bus. Katanya jika datang dikasih Rp 25 ribu per orang," ungkap Sulaiman kepada wartawan di lokasi, Senin (24/3).
Hal senada diungkapkan Matrio (45), warga Gandus Palembang. Dia menuturkan, uang 'upah capek' tersebut akan cair jika dia dan teman-temannya menandatangani absensi kehadiran yang dibuat korlap. Mereka diantar menuju lokasi kampanye menggunakan speedboat yang sengaja disewa.
"Harus tanda tangan dulu. Terus pakai kaos Hanura yang putih-putih itu. Kan nanti ketahuan siapa saja yang datang. Rugi dong, sudah hilangkan hari tapi tidak dikasih," kata Matrio.