Ini alasan elektabilitas Ahok merosot dari 59,3 % hingga 10,6 %
Ini alasan elektabilitas Ahok merosot dari 59,3 % hingga 10,6 %. Berdasarkan data LSI, elektabilitas Ahok terlihat sudah mengalami penurunan sejak bulan Juli 2016. Dimana pada Maret 2016, tercatat elektabilitas masih 59,3 persen, sedangkan Juli 2016 turun jadi 49,1 persen.
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) milik Denny JA merilis hasil survei terbarunya. Hasilnya, elektabilitas Ahok-Djarot merosot hingga tinggal 10,6 persen jauh tertinggal dari pesaingnya Agus-Sylvi dan Anies-Sandi yang masing-masing mendapat 30,90 persen dan 31,90 persen.
Peneliti LSI, Ardian Sopa mengatakan, salah satu penyebab anjloknya elektabilitas Ahok karena terjerat kasus penistaan agama. Padahal sebelumnya, elektabilitas Ahok masih 24,6 persen.
"Saat survei dilakukan, memang Ahok belum menyandang status tersangka. Namun, responden telah ditanya perihal dukungan bila Ahok menjadi tersangka kasus dugaan penistaan agama. Hasilnya adalah terjadi penurunan dukungan yang signifikan terhadap Ahok-Djarot," jelas Ardian di kantor LSI, Jakarta Timur, Jumat (18/11).
Ardian mengatakan, kasus dugaan penistaan agama menjadi perhatian publik Jakarta secara luas. Ini adalah persepsi publik, terlepas dari proses hukum yang berjalan.
"Mayoritas publik pun mendukung adanya proses hukum terhadap Ahok meskipun Ahok telah meminta maaf," terangnya.
Berdasarkan data LSI, elektabilitas Ahok terlihat sudah mengalami penurunan sejak bulan Juli 2016. Dimana pada Maret 2016, tercatat elektabilitas masih 59,3 persen, sedangkan Juli 2016 turun jadi 49,1 persen.
Elektabilitas Ahok pada bulan Oktober 2016 pun semakin menurun hingga 31,4 persen. Sampai akhirnya pada November 2016 (sebelum penetapan tersangka) sebesar 24,6 persen. Hingga akhirnya, elektabilitas mantan bupati belitung timur itu berada di titik terendah pada November yakni 10,6 persen.
Survei terakhir LSI dilakukan periode 31 Oktober sampai dengan 5 November 2016, dengan menggunakan metode multistage random sampling. Jumlah yang responden yang dimintai pendapat sebanyak 440 orang.
Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Sementara
Margin of error survei ini kurang lebih 4,8 persen.