Hashim Djojohadikusumo jamin logistik Pilpres 2019, Prabowo tunggu apalagi?
Hashim tak membantah ada upaya untuk menduetkan Prabowo dengan Jokowi di Pilpres 2019. Tapi dia tak mau bicara lebih dalam. Gerindra pun telah menolak mentah-mentah ajakan Prabowo menjadi cawapres itu.
Kabar Prabowo Subianto ragu maju Pilpres 2019 karena persoalan logistik terjawab. Sang adik, Hashim Djojohadikusumo menjamin soal biaya pilpres yang memang butuh biaya besar.
Hashim menegaskan, tak perlu mengkhawatirkan modal untuk pilpres. Malahan, kata dia, persiapan untuk menyambut Pilpres 2019 lebih matang ketimbang empat tahun lalu.
"Ya, insya Allah. Ya kita semakin siap lah, kalau saya katakan sudah lengkap semua enggak dong hari ini. Kita kan masih satu tahun, ini masa kampanye paling lama di Indonesia. Konyol," kata Hashim yang juga wakil ketua dewan pembina Gerindra, saat ditemui merdeka.com di Jakarta, Kamis (22/3).
Hashim membantah kabar Prabowo saat ini sudah tak lagi punya uang untuk maju pilpres. Dia menekankan sekali lagi, dana pilpres dipastikan aman.
"Insya Allah aman," kata Hashim.
Hashim tak membantah ada upaya untuk menduetkan Prabowo dengan Jokowi di Pilpres 2019. Tapi dia tak mau bicara lebih dalam. Gerindra pun telah menolak mentah-mentah ajakan Prabowo menjadi cawapres itu.
"Saya tidak membantah itu," kata Hashim.
Tapi hingga kini, Prabowo tak kunjung deklarasi capres. Meskipun, Gerindra telah mendorongnya untuk maju. Fadli Zon, wakil ketua umum partai menyatakan, deklarasi akan dilakukan April bulan depan.
Apalagi yang ditunggu Prabowo?
Pengamat politik dari Unpad, Firman Manan mengatakan, ada beberapa hal yang kini tengah dipetimbangkan Prabowo sebelum deklarasi. Salah satunya soal bagaimana kekuatan politik yang mendukungnya di Pilpres tahun depan.
Menurut Firman, meskipun koalisi dengan PKS sudah memenuhi syarat, tapi Prabowo tetap ingin memastikan secara bulat dukungan tersebut.
"Walaupun PKS sudah fiks kemungkinan PAN juga bergabung, tapi saya pikir kelihatannya Pak Prabowo ingin memastikan dia maju, maka poros koalisi itu sudah betul solid, jangan sampai kemudian deklarasi tapi ternyata koalisinya tidak terjadi, itukan terjadi pencitraan yang tidak baik," kata Firman saat dihubungi merdeka.com, Kamis (22/3) malam.
Hal lain, Firman menambahkan, Prabowo masih berpikir untuk menjadi king maker di Pilpres 2019. Ada nama Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan, yang menurut Firman bisa diandalkan oleh Prabowo melawan Joko Widodo yang elektabilitasnya masih berada di atas.
"Sebagai seorang politisi yang sudah berpengalaman, tentu akan menghitung peluang itu, terlebih justru kalau kita lihat keberhasilan Pak Prabowo dalam beberapa momen politik justru sebagai king maker dua kali di Jakarta menang. Pertama saat Jokowi dan kedua Anies," terang dia.
Terkait dengan lobi yang dilakukan agar Prabowo duet dengan Jokowi, Firman menilai, Prabowo tak akan mau menjadi wakil Jokowi. Menurut dia, Prabowo sudah memiliki citra seorang tokoh politik partai oposisi.
"Kalau ada lobi bisa saja, tapi saya tidak yakin Pak Prabowo mau, di posisi wakil dengan Presiden Jokowi, satu ya bagaimanapun orang melihat dia sebagai tokoh oposisi, track record Gerindra oposisi, dia pemimpin partai oposisi," tutup Firman.
Baca juga:
Prabowo soal Pilpres 2019: Insya Allah, kita lihat dukungan
Rizieq akan ajak alumni 212 dukung koalisi Gerindra, PKS, PAN dan PBB
'Cawapres Prabowo yang penting nasionalis religius'
Gerindra bentuk tim penjaringan Cawapres Prabowo
Hashim tak bantah ada upaya Jokowi gandeng Prabowo di Pilpres 2019