LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

Empat faktor sebab si 'Perwira Ksatria' kalah di Pilgub Jabar

Sebelumnya, beberapa hasil survei selalu mengunggulkan Dede. Sosoknya disebut-sebut memiliki elektabilitas tertinggi.

2013-02-26 06:03:00
pilgub jabar
Advertisement

Calon Gubernur Jawa Barat dan wakilnya Dede Yusuf-Lex Laksamana diprediksi kalah dalam Pilgub Jabar. Dede hanya menempati urutan ketiga setelah Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar dan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki. Dede dan timnya mengaku akan melakukan evaluasi. Tetapi dia legowo dengan hasil quick count Pilgub Jabar.

Puskaptis merilis Aher-Deddy unggul dengan prosentase 32,71 persen. Urutan kedua diraih oleh Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki dengan angka 28,15 persen. Selanjutnya urutan ketiga ditempati Dede Yusuf-Lex Laksamana dengan perolehan suara 24, 87 persen.

Kemudian keempat, Yance-Tatang dengan perolehan 12,54 persen dan terakhir Didik-Cecep 1,86 persen.

Advertisement

Berbagai analisa pun muncul kenapa Dede Yusuf yang cukup populer, bisa dikalahkan oleh Rieke. Bahkan di Bandung, yang jadi home base pun Dede kalah.

Sebelumnya, beberapa hasil survei selalu mengunggulkan Dede. Sosoknya disebut-sebut memiliki elektabilitas paling tinggi. Dede pun mengaku sudah bekerja maksimal. Tapi rupanya rakyat Jabar lebih memilih dua pesaingnya.

Apa saja yang membuat aktor ganteng pemeran pilot F-16 TNI AU dalam film Perwira Ksatria ini kalah?

Advertisement

Cakar-cakaran Partai Demokrat

Mantan Wakil Direktur Eksekutif Partai Demokrat M Rahmad menilai kekalahan Dede Yusuf merupakan hal yang wajar. Pasalnya, di internal Partai Demokrat sendiri sedang kacau dan amburadul.

"Kegalauan masyarakat akan bagaimana mungkin sebuah rumah tangga yang cakar-cakaran ditonton masyarakat. Maka mas akan berpandangan rumah tangga yang lagi kacau balau tidak bisa jadi suri tauladan, otomatis itu akan mempengaruhi dukungan masyarakat," jelas M Rahmad di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (25/2).

Mantan Staf Pribadi Anas Urbaningrum itu enggan mengungkapkan siapa saja yang membuat amburadul dan kacau balaunya rumah tangga Partai Demokrat. Seharusnya rumah tangga internal Partai Demokrat tidak diekspos ke masyarakat, tetapi yang terjadi sebaliknya. Sama-sama kader Partai Demokrat sendiri saling sikut dan saling menjatuhkan.

"Rahasia dapur cukup di dalam tidak perlu di luar," jelas Rahmad.

Pemilih mengambang diambil Rieke

Turunnya suara Dede Yusuf tak lepas dari elektabilitas Rieke-Teten yang semakin naik. Rieke mengambil suara pemilih mengambang yang semula condong memilih Dede Yusuf.?

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Gungun Heryanto, menilai Rieke berhasil membangun sistem jaringan dan meraih pemilih yang mengambang.

"Rieke mengungguli Dede karena Rieke mendapat suara dari undecided voters. Kalau ukuran saya di Pilgub Jabar, Rieke termasuk berhasil. Sebenarnya cukup merata dalam beberapa bulan. Sementara Aher membangun sistem selama 5 tahun," kata Gungun saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (25/2).

Menurut Gungun dari beberapa survei, awal desember 2012, suara Rieke cuma 5 persen. Akhir Desember 12 persen. Awal Februari meningkat 20 persen.

"Sekarang 27 persen yang kemungkinan diisi oleh undicided voters. Ada peningkatan grafis, jika berjalan dua putaran, Rieke-Teten yang akan menang," katanya.

?

Terlalu percaya diri dengan hasil survei

Segala kepopuleran Dede gagal mengantarkannya menjadi orang nomor satu di Jawa Barat. Pengamat Politik Universitas Padjajaran Muradi menilai Dede terlalu pede. Ini awal dari kekalahannya.

"Di sini saya melihat Dede Yusuf itu over confidence. Masyarakat Jawa Barat tidak suka dengan sifat yang seperti ini. terlebih masyarakat yang melek media," kata Muradi saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (24/2).

Muradi menambahkan survei tidak bisa dijadikan pegangan. Dalam survei, Dede berada di atas Rieke. Faktanya di Bandung saja, Dede dikalahkan Rieke. Padahal Rieke bukan orang Bandung.

"Dia tidak bisa mengukur diri karena itu kan baru survei. Sedang dari survei saya saya sudah memprediksi Aher satu putaran," kata Muradi.

Boomerang black campaign

Tim sukses Ahmad Heryawan menangkap dua pria yang sedang memasang spanduk bergambar cover majalah Tempo bergambar Aher, Sabtu (23/2). Dua pria itu mengaku anggota tim Dede Yusuf.

Spanduk itu berisi Ahmad Heryawan yang sedang memegang buku nasabah BJB dan bertuliskan 'Runyam Aher Bank Dibobol'. Spanduk juga berisikan sindiran-sindiran kepada Politisi PKS itu.

Kubu Dede membantah mereka menuding hal ini dilakukan Aher sendiri agar menimbulkan terkesan Cagub Jawa Barat nomor 4 itu terzolimi. "Tidak ada black campaign yang dilakukan keduanya," tegas Sekretaris Babarengan Media Center (BMC) Dadan Hendaya di Bandung, Jawa Barat, Minggu (23/2).

Menurut Dadan, dalam spanduk bergambar Aher itu merupakan cover majalah mingguan. Dia mengatakan tidak ada sedikit pun pernyataan menyudutkan apalagi berbau fitnah yang dilakukan terhadap Aher.

"Cover majalah Tempo ini pun diperoleh dari orang Tempo sendiri," katanya.

Pengamat politik Unpad Muradi menjelaskan Dede ikut terkena dampak dari black campaign ini. Justru akhirnya dia yang dirugikan.

"Adanya kasus terbaru dimana pendukung Dede melakukan black campaign dengan menyerang Aher yang meyebarkan spaduk-spanduk ilegal itu bisa membuat Citra Dede Yusuf menjadi menurun."

Baca juga:
Rieke tegaskan belum kalah di Pilgub Jabar
Aher tak mau kemenangannya disebut karena faktor Deddy Mizwar
'Dede Yusuf kalah karena Partai Demokrat sedang cakar-cakaran'
Rieke gagal tiru kesuksesan Jokowi, kenapa?

(mdk/ian)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.