Djarot: Sangat tak manusiawi biarkan warga tinggal di bantaran
Djarot: Sangat tak manusiawi biarkan warga tinggal di bantaran. Kebijakan penertiban ini, kata Djarot, harus terus dilakukan. "Di samping kita normalisasi sungai, banjir kurang, kita beri aspek legal pada mereka yang tidak legal, kehidupan mereka kita jamin, dan kehidupan seterusnya kita jamin."
Sesi ketiga debat cagub-cawagub DKI Jakarta masih berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Di sesi ini, tiga pasangan ditanya soal apakah kebijakan penertiban hunian di bantaran harus dilakukan.
Petahana cawagub DKI, Djarot Saiful Hidayat, menjawab. "Ini pertanyaan yang kami tunggu supaya ada penjelasan lengkap. Jakarta adalah ibu kota Negara Republik Indonesia di mana warganya tidak boleh tinggal di bantaran, di kolong yang bisa setiap saat kebanjiran," jelas Djarot, Jumat (13/1).
Menurut dia, Jakarta sebagai ibu kota negara alangkah tidak manusiawi jika membiarkan warganya tetap tinggal di bantaran sungai dan kolong jembatan.
"Maka itu kami sediakan rusun layak huni, bukan hanya itu kita subsidi kehidupannya, pendidikannya, kesehatannya transportasi, biaya hidup kita tanggung. Cara itulah membuat Jakarta lebih manusiawi," sambung Djarot.
Kebijakan penertiban ini, kata Djarot, harus terus dilakukan. "Di samping kita normalisasi sungai, banjir kurang, kita beri aspek legal pada mereka yang tidak legal, kehidupan mereka kita jamin, dan kehidupan seterusnya kita jamin. Supaya hidup lebih baik," tegasnya.
Baca juga:
SBY ajari Agus Yudhoyono debat, ini komentar Ruhut Sitompul
Agus Yudhoyono: Kami akan bangun dan menata Jakarta tanpa menggusur
Agus: Anggaran BLT tak ada apa-apanya dengan APBD DKI Rp 70 T
Ahok: Bantuan langsung tunai tidak mendidik
Sandiaga Uno yakin bisa ciptakan 200 lapangan pekerjaan baru
Anies Baswedan: Nomor 1 ikan, nomor 2 kail, kita siapkan kolamnya
Sampai sesi kedua, hanya Sylvi belum bicara di debat terbuka