LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

Dedi Mulyadi Nilai Gaya Tutur Menyerang Jokowi Tepat Sikapi Berita Bohong

"Memang gaya Pak Jokowi keluar atau bergeser dari gaya Pak Jokowi selama ini yang orang Jawa. Karena hari ini hoaks sudah menggunakan gaya bahasa vulgar," terang Dedi.

2019-03-10 22:45:20
Jokowi
Advertisement

Joko Widodo dinilai sudah tepat membawakan gaya tutur menyerang dalam menyikapi berita bohong. Hal itu karena serangannya dianggap sudah parah.

Salah satu contohnya adalah saat berorasi dalam acara deklarasi dukungan di Bandung, Capres nomor urut 01 itu meminta pendukungnya melakukan perlawanan. Pasalnya, dia menyebut sudah ada 9 juta masyarakat yang percaya dengan berita bohong.

Dia khawatir jumlah orang yang percaya dengan berita bohong terus bertambah. Bahkan, ia memprediksi bisa menjadi 15 juta jiwa.

Advertisement

Beberapa hal yang disorot adalah soal kriminalisasi ulama atau pelarangan azan dan penghapusan pendidikan agama. Belum lagi tentang antek asing dan keturunan PKI.

Jokowi pun menegaskan bahwa Indonesia sangat riskan jika dikelola oleh orang yang tidak mempunyai pengalaman dalam memimpin. Dengan kata lain, dia mengklaim punya kapasitas untuk menjadi Presiden satu periode lagi.

Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jabar, Dedi Mulyadi mengatakan bahwa ketegasan yang ditunjukan Joko Widodo bergeser dari gambaran orang Jawa yang tenang. Namun, langkah itu tepat karena perkembangan isu yang menyerang sudah semakin parah.

Advertisement

"Memang gaya Pak Jokowi keluar atau bergeser dari gaya Pak Jokowi selama ini yang orang Jawa. Karena hari ini hoaks sudah menggunakan gaya bahasa vulgar," terangnya saat ditemui di Bandung, Minggu (10/3/2019).

Namun ia menegaskan serangan balik dari Jokowi tidak dilakukan berdasarkan emosi. Semua pernyataannya keluar karena kekhawatiran efek dari berita bohong. Bahkan, konsumennya berasal dari kelas pertengahan perkotaan yang terdidik.

"Konsumsi media yang tak masuk akal pun dipercaya. Kan enggak bisa lagi ngomong lewat bahasa sastra lewat gaya Solo enggak bisa lagi. Ngomongnya harus gaya Jakarta," terangnya.

Dedi Mulyadi menambahkan bahwa pemimpin itu harus memenuhi aspek keragaman. Pergantian gaya tutur Jokowi yang cenderung menyerang adalah adaptasi dari keanekaragaman kultur. Semua dibawakan dengan momen yang tepat. Jika harus tegas, maka tegas. Sebaliknya, jika harus sopan maka harus sopan.

"Khusus di Jabar, wilayah ini kan memiliki sensitivitas terhadap isu-isu yang selama ini berkembang karena penduduknya banyak terus kemudian multi etnik serta wilayahnya plural. Sehingga isu tersebut cukup kuat pembicaraan publik di Jawa Barat," terangnya.

"Pak Jokowi itu sebenarnya menurut saya bukan melawan, tapi menurut saya Pak Jokowi ini menegaskan tentang berbagai masalah yang sebenarnya. Jadi ngomongnya terbuka," pungkasnya.

Baca juga:
Erick Thohir Klaim Perempuan Banyak Yang Pilih Jokowi Dibanding Prabowo
TKN Klaim Jokowi Selera Publik, Prabowo Belum Mampu Rebut Kepercayaan Rakyat
Jokowi Tinjau Pembangunan Terowongan Air, Solusi Banjir Kabupaten Bandung
Andi Arief Minta Jokowi Cuti, TKN akan Konsultasi ke KPU dan Bawaslu
SMRC Peringatkan Jokowi-Ma'ruf untuk Waspada Meski Ungguli Prabowo-Sandiaga
TKN Tegaskan Hubungan Personal Jokowi dan Prabowo Tetap Baik

(mdk/ded)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.