LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

Dedi Mulyadi Ajak Parpol Koalisi Tak Bebani Presiden saat Pilih Menteri

Ketua DPD Golkar Jawa Barat yang juga ketua TKD Jokowi-Ma'ruf Amin, Dedi Mulyadi berharap presiden yang tanpa beban ini melahirkan postur kabinet yang sesuai harapan publik tanpa terlalu terbebani oleh kepentingan jangka pendek.

2019-07-04 04:36:00
Kabinet Jokowi
Advertisement

Semua elemen partai pendukung Joko Widodo diminta menahan diri dan menyarankan komposisi menteri yang akan mengisi kabinet. Jangan sampai memberikan pembatasan mengenai latar belakang yang dianggap pantas menjadi menteri.

Ketua DPD Golkar Jawa Barat yang juga ketua TKD Jokowi-Ma'ruf Amin, Dedi Mulyadi mengingatkan, tak elok jika proses penentuan menteri diganggu. Sebab, itu merupakan otoritas penuh presiden.

Dedi berharap presiden yang tanpa beban ini melahirkan postur kabinet yang sesuai harapan publik tanpa terlalu terbebani oleh kepentingan jangka pendek.

Advertisement

"Biarkan presiden memiliki otoritas untuk menentukan siapa dan dari menteri yang akan ditunjuk, tanpa harus membicarakan bahwa dia dari partai, kalangan profesional atau dari kelompok manapun," kata Dedi saat dihubungi, Rabu (3/7).

Dia khawatir jika ada intervensi dari partai, maka akan ada semacam dualisme kepatuhan yang bisa mengganggu kinerja. Sebab, menteri yang dipasang tidak sesuai dengan proporsi, kemampuan, dan akselerasi kerja sama yang diharapkan presiden.

"Sehingga ketika jadi menteri, maka dia mengabdi kepada presiden bukan kepada partai. Itu cara membangun kinerja kabinet yang berkualitas," kata mantan bupati Purwakarta dua periode ini.

Advertisement

Kebebasan presiden menentukan menteri pun tidak terbatas. Tak hanya yang berlatar belakang partai politik pendukung saja. Joko Widodo bebas mengambil nama di luar dari partai pengusung dengan pertimbangan logis dan sesuai kemampuan.

"Jadi semuanya diserahkan ke presiden tanpa harus membicarakan profesional dan partai politik," katanya.

Menurut Dedi, di kalangan partai politik sesungguhnya banyak orang-orang profesional. Sebaliknya, di kalangan profesional belum tentu juga dia punya kemampuan dan sesuai harapan.

"Intinya, profesionalisme tidak diukur oleh partai politik atau bukan partai politik," terangnya.

Dedi mengakui, koalisi partai sudah terbiasa mengajukan calon menteri. Tradisi itu sudah berlangsung cukup lama. Tapi tetap otoritasnya berada di Presiden dan itu hak prerogatifnya. Diterima atau ditolak ajuan itu adalah kewenangan presiden.

"Misalnya, ketika partai mengajukan nama-nama, tapi ternyata presiden mengajukan nama lain karena dianggap layak dan mumpuni, ya no problem," katanya.

Menurut Dedi, pada periode kedua ini presiden sudah tidak punya beban apa pun dan memprediksi pemerintahan akan berjalan efektif. Sebab, presiden bisa mengambil keputusan bebas tanpa takut menyinggung partai A, partai B dan lainnya.

"Kan, pada periode pertama masih mempertimbangkan orang, takut tersinggung dan lainnya, karena butuh nyalon periode kedua," katanya.

Baca juga:
Minta 10 Menteri ke Jokowi, Inilah Pos Menteri Jadi Langganan Diisi PKB
Kriteria Menteri Jokowi Periode II di Mata Pengusaha
Saran Pengusaha ke Jokowi soal Pemilihan Menteri dari Generasi Muda
Respons Wiranto Ditanya Bakal Jabat Menteri Lagi
Politikus NasDem Usul Kabinet Jokowi Harus Ada Representasi Anak Muda dan Perempuan
Kursi DPR Lebih Banyak dari PKB, NasDem Minta Jatah 11 Menteri ke Jokowi

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.