Dede Yusuf sebut Pilgub DKI terlalu banyak intrik
"Dulu dengan Ridwan Kamil. Kemarin nama saya sempat dimasukin, tapi saya enggak mau," kata Dede Yusuf.
Meski belum dapat dipastikan siapa lawan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, pada Pemilihan Gubernur DKI pada 2017, tapi intrik sudah kerap terjadi. Terakhir Ahok 'berseteru' secara terbuka lewat media.
Politisi Partai Demokrat Dede Yusuf menyebut, sebelum dibenturkan dengan Risma, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pun pernah mengalami demikian. Saat itu karya ruang terbuka dibanding-bandingkan hingga dua pendukungnya kerap adu argumen di media sosial.
"DKI ini terlalu banyak intrik. Sekarang menyinggung ke Wali Kota Surabaya lah, seperti dibentur-benturin. Dulu dengan Ridwan Kamil. Kemarin nama saya sempat dimasukin (jadi kandidat pesaing Ahok), tapi saya enggak mau," kata Dede di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (12/8).
Namun dia, merasa ini bagian dari strategi partai untuk segera memunculkan calon untuk bersaing dengan sang petahana Ahok. Untuk diketahui September ini KPU akan memulai pendaftaran lewat jalur partai, setelah sebelumnya jalur independen sepi peminat.
"Pendaftaran ke KPU itu kan September. Jadi kalau saya katakan, ini upaya partai-partai untuk memunculkan calon selain Ahok," jelasnya.
"Artinya dicari last minute-nya, kira-kira begitu. Dalam politik itu sah-sah saja," terangnya.
Demokrat sendiri belum mengambil keputusan soal sikap di Pilkada DKI tahun depan. Sebab, itu merupakan keputusan Majelis Tinggi Partai Demokrat.
"Urusan gubernur itu kebijakannya adalah ada di Majelis Tinggi. Koordinasi (dengan DPD Partai Demokrat DKI) tetap ada, tapi SK itu dikeluarkan oleh Majelis Tinggi, dalam hal ini Ketua Umum. Selama SK belum keluar, artinya masih cair," tandasnya.
Baca juga:
Ngebetnya Saefullah jadi Gubernur DKI
Cerita lucu di balik 25 menit pertemuan Sandiaga dan Ahok
PKS ingin Risma jadi cagub DKI tapi tunggu keputusan PDIP
Reaksi Ahok hadapi amarah Risma hingga ogah minta maaf
Golkar bantah nama Nurul Arifin disiapkan jadi cawagub Ahok
Ada 101 pilkada 2017, Djarot tak ingin cuma Pilgub DKI yang disorot