Debat Capres, Prabowo-Sandi Diminta Tawarkan Alternatif Jangan Hanya Kritik
Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes, mengatakan, debat Pilpres perdana pada 17 Januari mendatang, akan menjadi daya tarik tinggi bagi publik.
Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes, mengatakan, debat Pilpres perdana pada 17 Januari mendatang, akan menjadi daya tarik tinggi bagi publik.
"Publik jenuh dengan model kampanye kita yang tiga bulan belakangan ini tidak bicara soal isu-isu publik. Tidak bicara kepentingan besar publik. Tapi soal-soal yang kontroversial, yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan publik," ucap Arya di kantornya, Jakarta, Selasa (15/1/2019).
Dia mengingatkan agar penantang, Prabowo-Sandiaga, menghadirkan alternatif. Bukan hanya kritik semata.
"Jadi saya berharap kita sebagai pemilih ya, tentu berharap dalam debat nanti, bagi penantang dulu deh, bagi penantang harus menawarkan sesuatu alternatif. Bukan soal narasi-narasi, bukan soal kritik-kritik semata. Tetapi harus ada narasi alternatif atau solusi," ungkap Arya.
Dia merujuk pada Pidato Prabowo 14 Januari kemarin, di mana sangat emosional. Topik yang dibicarakannya juga sangat besar.
'Padahal kalau penantang itu fokus pada beberapa isu yang kuat, Misalnya isu-isu ekonomi begitu, mungkin pidatonya akan sangat menarik. Tetapi kan isu yang dibicarakan sangat luas itu. Mungkin juga ingin menargetkan masa pemilih yang luas. Padahal menurut saya sebagai penantang lebih baik menggunakan isu-isu strategis, fokus pada beberapa isu penting. Mereka sejak awal menggunakan isu ekonomi. Dalam pidato semalam isu ekonomi tidak diperdalam," jelas Arya.
Untuk Jokowi-Ma'ruf, masih kata dia, harus juga bisa membangun dan menjawab pertanyaan publik mengapa mereka layak dipilih kembali. Apa capaiannya dan prestasinya. Itu yang menjadi penting bagi publik.
"Karena debat ini sebenarnya kalau kontestasinya ketat, yang sangat mempengaruhi adalah justru isu-isu yang, bukan isu-isu yang normatif tapi isu-isu yang punya daya pukul yang kuat," tukas Arya.
Dia menilai, isu korupsi akan lebih seksi daripada yang lain. Di mana di tahun 2018 banyak operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK.
"Jadi publik punya intensi yang sangat besar untuk mengetahui apa prioritas pemerintah terhadap pemberantasan korupsi," kata Arya.
Selain itu, masih kata dia, korupsi yang dicermati adalah korupsi politik. Jadi ini yang ditunggu masyarakat.
"Terutama korupsi dari sisi korupsi politik. Apa yang ingin pemerintah lakukan untuk menangani tindak pidana korupsi itu. Saya kira isu korupsi tanpa menegasikan isu lainnya, jauh punya magnitude yang besar," pungkasnya.
Reporter: Putu Merta Surya Putra
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Kubu Jokowi Sebut Wacana Lembaga Tabungan Haji Prabowo Tiru Program di Malaysia
Belajar dari Pidato Prabowo, Sandiaga akan Perhatikan Durasi saat Debat
Soal Mantan Presiden Diinteli Intelijen, PDIP Sebut Pidato Prabowo Banyak Ilusi
Marzuki Mohamad Polisikan Akun @cakkhum Ubah Lirik Lagu 'Jogja Istimewa'
Peneliti CSIS: Pidato Prabowo Tak Berefek Besar pada Swing Voters
PKS: Indonesia Masalahnya Banyak, Pidato Prabowo 1,5 Jam Terlalu Pendek