Cerita ketua Formappi telan pil pahit saat nyalon pilkada di NTT
"Saya pernah beberapa kali mengubah baliho, pertama karena aturan," kata Sebastian.
Ketua Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Sebastian Salang, pernah memiliki pengalaman pahit soal pilkada ketika dirinya maju sebagai calon Bupati Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Sebastian mengaku kapok untuk mengikuti pilkada lagi setelah saat itu.
Dia menceritakan, masih banyak regulasi soal pilkada yang tidak memberikan kepastian bagi pasangan calon.
"Kesiapan pilkada saya lihat banyak yang salah, mulai dari regulasi banyak tidak beri kepastian. Saya pernah beberapa kali mengubah baliho, pertama karena aturan," kata dia dalam diskusi di Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/12).
Tak hanya itu, Sebastian menambahkan, regulasi yang mengharuskan anggota DPRD untuk mundur saat mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Hal tersebut dianggapnya malah membuat partai politik bersikap pragmatis.
"Akibatnya banyak partai politik yang tidak punya calon, karena waktu tidak cukup.
Kemudian akhirnya transaksi saja, tidak melihat kualitas, trackrekor," jelasnya.
Mantan calon Bupati Manggarai, NTT itu melanjutkan, soal biaya kampanye juga tidak ada ketegasan dari penyelenggara pemilu. Akibat ketidakpastian tersebut, justru malah meningkatkan biaya yang dikeluarkan pasangan calon.
"Tadi kita juga bicara biaya kampanye, ingin cost politik ditekan. Tapi pengalaman saya, negara akan membiayai setelah calon ditetapkan, padahal pasangan calon sudah kampanye, jauh sebelum mereka ditetapkan," tandasnya.
Baca juga:
Maju di Pilkada, Pasha Ungu terganjal foto ciuman sama Angel Karamoy
Membedah kelebihan dan kekurangan artis di Pilkada Serentak
Petinggi parpol turun gunung demi menangkan Pilkada Serentak
Kampanye Pilkada ini disorot gara-gara pakai bikini & sexy dancer
Pemilu & Pilkada akrab dengan 'Ambil uangnya jangan pilih orangnya'