LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

Belajar dari pengalaman, gandeng ulama jadi Cawapres tak jamin menang

Nama Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin dikabarkan masuk menjadi salah satu bakal calon wakil presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, Ma'ruf dinilai bukan figur terbaik. Sebab, senior PBNU itu dinilai lebih dibutuhkan menjadi ulama panutan yang menjaga kerukunan NKRI dan keberagamannya.

2018-07-27 14:29:00
Kandidat Cawapres Jokowi
Advertisement

Nama Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin dikabarkan masuk menjadi salah satu bakal calon wakil presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, Ma'ruf dinilai bukan figur terbaik. Sebab, senior PBNU itu dinilai lebih dibutuhkan menjadi ulama panutan yang menjaga kerukunan NKRI dan keberagamannya.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin menyampaikan, Presiden Jokowi berhak memilih figur yang akan mendampinginya pada pilpres tahun depan, demikian juga Ma'ruf memiliki hak politik. Namun, kata Ujang, Indonesia memerlukan pemimpin yang lebih muda, berintegritas dan berpengalaman.

"Yang berintegritas dan yang terbaik. Kan masih banyak figur lain yang bisa dan mumpuni. Ma'ruf Amin itu levelnya menjadi ulama panutan yang menjaga kerukunan umat," kata Ujang, saat dihubungi wartawan, Jumat (27/7).

Advertisement

Ma'ruf yang saat ini berusia 75 tahun juga dinilai tidak menjamin memberi peningkatan elektoral untuk Jokowi. Pasalnya, Ma’ruf tidak berpengalaman di dunia politik dan pemerintahan, serta namanya tidak masuk dalam hasil survei cawapres sejumlah lembaga.

Ujang menyampaikan, sejarah mencatat bahwa mengusung ulama sebagai cawapres tidak jaminan mendongkrak elektabilitas, apalagi menang. Hal itu terjadi pada Pemilu 2004 saat pasangan Megawati Soekarnoputri - Hasyim Muzadi, dan Wiranto-Salahudin Wahid kalah oleh pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.

"Jadi bisa saja cerita masa lalu ini kembali, tergantung tingkat kesukaan masyarakat," ungkap Direktur Eksekutif Indonesia Political Review tersebut.

Advertisement

Memilih Ma'ruf menjadi cawapres juga dikhawatirkan membuka potensi terjadinya konflik. Alasannya, cawapres pasti akan mendapat serangan politik dari kubu lawan, dan serangan politik terhadap personal Ma'ruf bisa melebar jadi serangan terhadap ulama secara menyeluruh.

"Ketika dikritik orang maka pendukungnya protes," ujar Ujang.

Baca juga:
PKB tak yakin Jokowi pilih JK jadi cawapres meski uji materi dikabulkan MK
HKI nilai Airlangga punya kompetensi tinggi jika dampingi Jokowi
PDIP akui nama Ma'ruf Amin sejak awal masuk kandidat cawapres Jokowi
Mahfud MD nilai Jokowi punya tim survei sendiri untuk tentukan Cawapres
Politisi PDIP: PKB ngambek soal cawapres Jokowi
Tutup masa sidang, Bamsoet singgung soal cawapres lewat pantun

(mdk/rnd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.