Anies diminta sadar ikut Pilgub bukan seperti dosen ajar mahasiswa
Peneliti dari LIPI, Adriana Elisabeth menyebut calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lebih memahami dalam memimpin masyarakat. Selama ini dia merasa bahwa Anies memberikan pengarahan layaknya dosen kepada mahasiswa.
Peneliti dari LIPI, Adriana Elisabeth menyebut calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lebih memahami dalam memimpin masyarakat. Selama ini dia merasa bahwa Anies memberikan pengarahan layaknya dosen kepada mahasiswa.
"Ini bukan ngajarin mahasiswa. Coba saja Anda bayangkan, apakah Anies bisa melakukan hal itu atau tidak," kata Adriana di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (27/10).
"Artinya, gubernur itu tantangannya jauh lebih besar. Anies harus sadar akan ini," tambahnya.
Menurut Adriana, selama menjadi menteri pendidikan, sosok Anies juga terbilang gagal. Bukti konkret kegagalan itu terlihat ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) memecatnya sebagai menteri.
Pengalaman Anies sebagai menteri, lanjut dia, juga belum menjadi acuan bahwa pasangan Sandiaga Uno itu punya pengalaman cukup. "Kalau Presiden Jokowi itu jelas ya, kalau (Anies) enggak bisa ya berhenti. Jadi menteri baru dua tahun, itu sesuatu yang belum maksimal," ungkapnya.
Di samping itu, Direktur Populi Center, Usep S Ahyar mengatakan, jelang Pilkada Serentak, kampanye lewat media sosial semakin gencar dilakukan tiap kubu calon. Tidak sedikit juga kampanye hitam dilakukan.
"Perspektif psikologi itu tidak ada apa-apa kalau tidak didorong media dan digoreng media. Terutama di media sosial ya. Jadi kita sangat bising," paparnya.
Lebih jauh, Usep juga menegaskan bahwa tidak semua orang bisa terpedaya tiap ocehan di media sosial. "Dari hasil kajian kita, sumber informasi dari medsos tidak jadi acuan juga untuk orang-orang memutuskan sesuatu. Hanya lima persen orang yang percaya sumber informasi dari media sosial," ungkapnya.
Maka dari itu, pihaknya merasa tidak perlu ada kepanikan banyaknya kampanye hitam di media sosial. Apalagi hanya sedikit orang percaya atas merebaknya kampanye jenis itu.
"Saya tidak khawatir seribut apapun media sosial, orang itu tetap nyangkul, tetap ke pasar dan yang bising itu hanya di kalangan tertentu saja," terangnya.(mdk/ang)