LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

5 Rapor merah Ical pimpin Golkar

Untuk pertama kalinya, Golkar tidak memiliki kader yang resmi diusung sebagai capres atau cawapres.

2014-05-21 11:18:28
Pemilu 2014
Advertisement

Aburizal Bakrie akhirnya membawa Partai Golkar menjadi bagian koalisi Merah Putih bersama lima partai lain mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa dalam pemilu presiden 9 Juli mendatang. Suara di internal Partai Golkar pun pecah, karena sebagian kader dan pengurus memilih mendukung Jusuf Kalla yang dipilih Jokowi sebagai cawapres.

Keputusan ini menjadi antiklimaks bagi perjalanan Golkar dan Ical yang sejak awal menargetkan suara 30 persen dalam pemilu legislatif dan mengincar posisi calon presiden.

Manuver Golkar usai pemilu legislatif pun bak orang kebingungan mencari kawan untuk koalisi. Ke kubu PDIP tak mendapat respons positif, mencoba mengajak Partai Demokrat untuk membentuk poros baru tak ditanggapi, akhirnya merapat ke Gerindra di saat-saat terakhir dengan deal posisi menteri utama.

Banyak yang menilai, sejak dipimpin Aburizal Bakrie, Golkar mengalami kemunduran. Apa saja rapor merah Ical selama memimpin Golkar? Berikut ulasannya:

Target suara 30 persen di pemilu gagal

Ical memimpin Golkar setelah terpilih dalam Musyawarah Nasional (Munas) VIII Partai Golkar di Pekanbaru, Riau pada tanggal 8 Oktober 2009. Dia mengalahkan pesaing kuatnya saat itu Surya Paloh yang akhirnya mundur dari Golkar dan mendirikan Partai Nasional Demokrat. Ical menggantikan

Dalam pidato kemenangannya, Ical menjanjikan bahwa Golkar akan memenangkan pemilihan kepala daerah gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh Indonesia, serta memilih kader partai yang terbaik dan terpopuler untuk maju dalam setiap pilkada atau pemilu.

Ical pun menargetkan 'menguningkan' Indonesia dengan meraih suara 30 persen dalam pemilu legislatif 2014. Hasilnya, suara Golkar memang naik dari pemilu 2009, tapi hanya 0,3 persen. Golkar mendapat 18.432.312 atau 14,75 persen dalam pemilihan umum legislatif Indonesia 2014.

Ical pun meminta maaf atas kegagalan itu saat membuka rapat pimpinan nasional Partai Golkar VI di Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu (18/5).

"Jangan mencari kesalahan pada pihak lain. Saya adalah pemimpin tertinggi partai kita. Karenanya, saya adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas segala kekurangan yang ada. Untuk itu, di hadapan saudara-saudara semua, saya menyampaikan permohonan maaf dari hati saya yang terdalam," ucap Ical.

Advertisement

Kursi di DPR berkurang

Meski suara naik 0,3 persen dibandingkan pemilu sebelumnya, jumlah calon anggota legislatif dari Partai Golkar yang lolos ke Senayan untuk masa bakti 2014-2019 berkurang.

Setelah rekapitulasi nasional disahkan KPU, Golkar hanya mendapat jatah kursi DPR sebanyak 91. Padahal periode lalu, kursi Golkar mencapai 106.

Advertisement

Ical gagal jadi capres

Efek berantai dari gagalnya Golkar meraih suara maksimal dalam pemilu legislatif adalah keinginan Ical menjadi capres terganjal. Padahal, Ical sudah mendapat mandat penuh menjadi capres saat Rapimnas III Golkar di Bogor pada Juni 2012 lalu.

Sejak mendapat mandat itu, Ical gencar mengampanyekan dirinya melalui iklan di jaringan televisi miliknya sebagai capres dengan menggunakan inisial ARB. Dia juga rajin berkeliling dari satu daerah ke daerah lain mengenalkan dirinya.

Sayang, hingga pendaftaran ditutup, Ical gagal merayu partai lain untuk mendukungnya menjadi capres. Mantan menko kesra itu pun harus mengubur impiannya.

Gagal juga jadi cawapres

Manuver politik Ical jelang deadline pendaftaran pasangan capres-cawapres 20 Mei cukup sibuk. Setelah rapimnas Golkar mengubah statusnya lebih fleksibel bisa menjadi cawapres, Ical mencoba mendekati kubu PDIP. Dia dikabarkan menawarkan diri sebagai cawapres namun ditolak Megawati. Poros PDIP sudah memantapkan pilihannya untuk memilih Jusuf Kalla sebagai cawapres.

Gagal mencapai kesepakatan dengan kubu PDIP, Ical pun berpaling ke kubu Prabowo, namun capres Gerindra itu sudah kadung memilih Hatta Rajasa sebagai cawapres. Daripada tidak berpartisipasi sama sekali, Ical menerima tawaran posisi menteri utama di kabinet Prabowo jika mereka menang pilpres.

Ical pun mengungkapkan konsep trisula kepemimpinan. "Ada konsep trisula, Pak Prabowo, Pak Hatta, dan saya," ujar Ical saat menghadiri deklarasi dukungan di Rumah Polonia, Selasa (20/5).

Untuk pertama kalinya Golkar tidak punya calon sendiri

Keputusan bergabung dengan Gerindra berarti Golkar tidak punya kader sendiri yang dicalonkan resmi untuk bertarung di pemilihan presiden. Padahal sejak pilpres pertama kali digelar, Golkar selalu punya calon presiden yang resmi diajukan partai.

Pada pilpres 2004, Golkar mengajukan pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid. Sedangkan di Pemilu 2009, Golkar punya pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Di pilpres ketiga sepanjang sejarah ini, Golkar untuk pertama kalinya tidak memiliki calonnya sendiri.

(mdk/bal)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.