5 Peluru Ibas kritik kenaikan harga BBM oleh Jokowi
Ibas menilai rencana itu tak masuk akal.
Belum genap sebulan semenjak dilantik 20 Oktober silam, presiden Joko Widodo dan Wakilnya Jusuf Kalla sudah memantik protes keras dari berbagai kalangan masyarakat. Kecaman itu datang lantaran pemerintahan Jokowi-JK berencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Sekjen Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menyatakan, harga minyak dunia saat ini sedang turun. Karena itu, putra mantan Presiden SBY itu tak melihat keharusan pemerintah Jokowi untuk mencabut subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) angkat bicara mengenai rencana pemerintahan Jokowi-JK menaikkan harga BBM subsidi. Ibas menilai tidak ada urgensi bagi pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Secara pribadi Ibas menyatakan bakal meminta penjelasan dari pemerintah Presiden Jokowi jika memang harus mencabut subsidi BBM. Dia tak ingin masyarakat semakin sulit dengan kenaikan BBM ini. Ibas berpesan supaya Jokowi memikirkan dampak domino dari kenaikan BBM ini. Seperti yang dilakukan ayahnya, mantan Presiden SBY memberikan bantuan langsung tunai bagi rakyat yang langsung terkena dampaknya. Ibas curiga rencana pencabutan subsidi BBM oleh Jokowi untuk kepentingan pengalokasian dana subsidi BBM ke program Jokowi yang lain. Program tersebut, kata dia, untuk memenuhi janji Jokowi saat pilpres lalu.
Masyarakat menilai rencana itu tak sesuai dengan janji-janji Jokowi-JK yang digaungkan selama pemilu lalu. Desakan membatalkan rencana itu pun bukan hanya datang dari masyarakat, namun juga lawan politik presiden Jokowi saat pilpres lalu.
Salah satu kritikan datang dari Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Ibas menilai tidak ada urgensi bagi pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Terlebih menurutnya harga minyak dunia saat ini sedang turun.
"Untuk menyikapi masalah BBM ini, tidak ada urgent, karena minyak dalam posisi 84 (per barrel) bahkan ada yang 80 (per barrel). Kalau dulu Demokrat kurangi subsidi karena kondisinya beda, itu lebih dari 100 (per barrel)," ujar Ibas di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (6/11).
Selain itu, putra bungsu mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menilai rencana itu tak sesuai dengan janji Jokowi-JK selama ini. Dia pun terang-terangan menyindir pasangan yang diusung oleh Koalisi Indonesia Hebat (KIH) itu.
Lantas apa saja ocehan Ibas terkait rencana pemerintahan Jokowi-JK soal kenaikan BBM subsidi. Berikut sentilan-sentilan Ibas yang dirangkum merdeka.com, Jumat (7/11):Ibas tolak rencana Jokowi soal BBM subsidi
Tak hanya itu, Ibas dengan tegas menolak jika Jokowi benar-benar bakal menaikkan harga BBM.
"Bahwa kalau memang kondisi saat ini dalam keadaan stabil atau (harga minyak) lebih rendah ya buat apa melakukan pengurangan subsidi," ujar Ibas di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (6/11).Ibas nilai rencana Jokowi naikkan BBM subsidi tak masuk akal
"Untuk menyikapi masalah BBM ini, tidak ada urgent, karena minyak dalam posisi 84 (per barrel) bahkan ada yang 80 (per barrel). Kalau dulu Demokrat kurangi subsidi karena kondisinya beda, itu lebih dari 100 (per barrel)," ujar Ibas di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (6/11).Akan minta penjelasan langsung Jokowi
"Kalau pun harus, kami akan minta penjelasan dari pemerintah, atas dasar apa menarik subsidi? Jangan sampai membuat masyarakat semakin sulit," tegas Sekjen Demokrat ini.Ibas minta Jokowi tiru SBY soal BBM subsidi
"Saya tidak mau kenaikan harga BBM tapi tidak dipikirkan kemungkinan lain. Karena itu harus diiringi dengan program-program yang langsung. Presiden SBY dulu kan jalankan program sosial untuk yang terkena langsung impactnya," kata putra bungsu mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini.Ibas tuding Jokowi cari dana tambahan buat janji kampanye
"Jangan sampai seolah-olah pemerintah juga mencarikan tambahan hanya untuk pencabutan subsidi untuk menjalankan program-program yang menjadi implementasi harapan dan janji kampanye," terang Ibas.