Wayan Kulit baru dikremasi setelah ratusan tahun dikubur
Wayan Kulit berwasiat minta lidah manusia. Namun hal itu tak bisa terpenuhi hingga diganti dengan lembu emas.
Suasana mistis terasa saat upacara ngaben massal yang menyertakan Sawe I Wayan Kulit, di Banjar Minggir Nusa Penida, Bali.
Dalam prosesi ini, menyertakan pengabenan (kremasi) dari Wayan Kulit yang sebelumnya sudah dikubur hingga ratusan tahun lamanya. Bahkan diperkirakan sejak zaman Kerajaan Gegel di Klungkung. Wayan Kulit dikuburkan dan belum disucikan atau menjalani prosesi upacara pengabenan.
Dan, Selasa (23/8) baru terlaksana setelah keturunan dari Wayan Kulit menanyakan kepada Sang Pandita. "Jadi leluhur kami minta disucikan dengan membayar haul lidah manusia. Karenanya kami minta petunjuk ke orang pintar agar haul bisa digantikan dengan yang lain. Ya, penggantinya cukup rumit. Salah satunya lembu lapis emas," tutur salah seorang warga di Banjar Minggir Nusa Penida.
Pengabenan ini hingga membuat perhatian Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta beserta istri menghadiri upacara ngaben massal di Nusa Penida ini.
Di hadapan bupati beserta rombongan, ketua panitia upacara karya ngaben massal, Ketut Suartina menuturkan, sebelum ditemukan kuburan Jro Wayan Kulit tidak satu pun warga sekitar tahu bahwa tempat tersebut adalah kuburan. Karena dia dikuburkan di tegalan atau kebun.
Diceritakannya, selama puluhan tahun saat diolah menjadi kebun untuk ditanami palawija, tidak satupun warga yang berhasil bercocok tanam. Keanehan lainnya, semua petani yang masuk ke tegalan itu selalu merasakan aneh dan terkesan angker.
Warga akhirnya mencari orang pintar untuk mengetahui kejelasan apa yang sedang terjadi di wilayah tegalan di banjar Minggir. Terungkap ketika Suartina menayakan kepada Ida Pandita Dukuh Acahrya Daksa, dari Geria Dukuh Samiaga, Penatih, Denpasar.
"Beliau memberikan jalan ada seuatu yang tidak beres di sana. Disebutkan ada leluhur yang belum diaben selama ratusan tahun di kubur," tuturnya.
Kata Suartina, pada tahun 2013, dilakukan ngaben massal dan menyertakan Jro Wayan Kulit, tapi banyak kendala yang dihadapi. Lantaran, beliau tidak mau diupacarai atau disucikan bersama Sawe lainnya dan mesti harus membayar khaul berupa blayag awakul dan petulangan berupa lembu emas.
Pemikiran para leluhur kami bahwa blayag yang dimaksud merupakan lidah manusia. Kemudian kembali minta petunjuk kepada Sulinggih Ida Dukuh Acarya Daksa, blayag awakul yg diminta, bisa diganti dengan banten (sajen) berupa pemegat lan saur suara dan kunyit yang dibungkus emas sebanyak awakul.
Kemudian untuk lembu emas, di dalam lembu berisi ikatan kawat emas sebanyak 5 titik, tanduk dan sudut sudutnya berisi emas dengan total 130 gr emas pripihan.
"Kami berharap melalui upacara ngaben leluhur kami dapat tempat yang baik mudah-mudahan perti sentani diberikan jalan yang baik dan rahayu, selamat," harap Ketut Suartina.
Bupati Nyoman Suwirta yang hadir saat itu mengatakan piutang kepada leluhur harus dibayar, karena berkatnya kita bisa hidup. Mudah-mudahan dipersembahkan jalan mulus dan labda karya, dan prati sentananya (keturunan) diberikan berkah untuk melanjutkan kehidupan.
Sampai sejuah ini Jro Wayan Kulit belum bisa dipastikan meninggalnya kapan. Hanya saja saat menggali kuburan terdapat taring babi, kerang, cawan klasik dan anehnya lagi giginya masih utuh sempurna, kepala menghadap ke barat menoleh selatan.(mdk/cob)