LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Warga Malas Antre, Bisnis Jasa Tukar Uang Jalanan Tetap Diminati

Penyedia jasa penukaran uang di kawasan Terminal Kampung Rambutan, Rohani (64) misalnya, dia memberikan tarif sebesar Rp 10 Ribu untuk satu kali transaksi. Rohani mengatakan, meski ada pro dan kontra terhadap jasa penukaran uang jalanan, hal itu tak mempengaruhi masyarakat yang ingin menukarkan uang di jalanan

2019-05-30 12:47:00
Penukaran uang
Advertisement

Mudik sudah menjadi tradisi bagi para perantau yang mengadu nasib di ibu kota. Tradisi 'bagi-bagi THR' juga berlaku di musim lebaran. Jika pemudik dengan penghasilan di atas Rp 6 juta perbulan tak masalah jika bagi-bagi THR dengan pecahan Rp 50 ribu. Namun, hal itu dirasa cukup berat bagi masyarakat rantau dengan penghasilan tak menentu, atau masih sebatas upah minimum regional (UMR).

Agar tradisi bagi-bagi THR tetap berjalan tanpa membebani kantong, para pemudik biasanya menukar uang mereka ke pecahan kecil. Biasanya mereka menukar uang Rp 100 ribu ke pecahan Rp 2 ribu hingga Rp 20 ribu, menyesuaikan penerima THR.

Pihak bank sejatinya telah menyiapkan layanan penukaran uang receh dengan nominal yang dibatasi. Namun antusiasme warga yang menukarkan uang membuat sebagian masyarakat cenderung menukar uang mereka ke jasa penukaran uang jalanan.

Advertisement

Memang, jika menukar uang di jalanan ada biaya lebih yang harus dikeluarkan. Namun tak sedikit juga masyarakat yang memilih menukarkan uangnya di jalanan.

Penyedia jasa penukaran uang di kawasan Terminal Kampung Rambutan, Rohani (64) misalnya, dia memberikan tarif sebesar Rp 10 Ribu untuk satu kali transaksi. Rohani mengatakan, meski ada pro dan kontra terhadap jasa penukaran uang jalanan, hal itu tak mempengaruhi masyarakat yang ingin menukarkan uang di jalanan, sekalipun ada perbedaan mencolok antara menukarkan uang di bank atau tidak.

"Enggak ngaruh lah. Masing-masing sudah punya kebiasaan. Mungkin ada yang biasa nukar di bank tapi kan yang biasa tukar di sini ya enggak masalah," kata Rohani saat berbincang dengan merdeka.com di terminal Kampung Rambutan Jakarta Timur, Kamis (30/5).

Advertisement

Tambahnya, rata-rata masyarakat atau calon pemudik yang menukarkan uang mereka di jasa penukaran uang jalanan karena malas antri atau tidak punya kesempatan menukarkan uang receh di bank. Sebab, operasional penukaran uang di bank dibatasi waktu.

Meski banyak masyarakat yang memiliki kebiasaan yang usaha menukarkan uang di jalan, Rohani merasa pendapatannya tetap bisa naik dan turun. Terutama pada lebaran 2019 ini.

"Tahun kemarin lumayan, tahun ini kelihatannya sepi. Karena kayaknya banyak uang yang tersedia di luar sana. Bisa juga pada hemat," ujar Rohani.

Pantauan merdeka.com, memang di area lapak Rohani terdapat beberapa penjaja jasa penukaran uang receh, dan terpantau sejak pukul 09.00 hingga 10.30 WIB tidak banyak masyarakat menukar uang mereka.

Sama seperti Rohani, Herlina (68) juga memiliki pandangan yang sama. Ia mengaku musim lebaran tahun ini, dirasa cukup menurun dalam penukaran uang receh.

"Kayaknya sepi nih mba, tapi enggak tahu yah besok kayak gimana," kata Herlina.

Disinggung mengenai keuntungan atas jasa tersebut, baik Rohani atau Herlina enggan menungkapkannya secara gamblang. Mereka hanya menegaskan pendapatan dari jasa penukaran uang ini cukup untuk kebutuhannya.

Herlina juga menampik isu ada kecurangan di jasa penukaran uang receh jalanan. Dia menegaskan tidak ada tipu-tipu dalam usaha tersebut. Hanya saja yang membedakan menukar uang di bank dengan di penukaran uang jalanan adalah adanya uang jasa Rp 10 ribu.

"Itu aja. Kan pembeli bisa hitung sendiri, kita juga kasih lihat ini uang asli," kata dia.

Dari sisi pembeli, Rahma (32) calon pemudik Bandung mengaku percaya atas keaslian uang yang dijajakan para penukar uang receh jalanan. Baginya, ada uang jasa Rp 10 ribu dianggap sebagai uang lelah antri.

"Ketimbang saya antri berjam-jam di bank. Saya enggak sempet, syukur kalau kebagian kalau enggak ya mending di sini aja. Toh kalau ini uang palsu, polisi pasti udah nangkep-nangkepin kan di sini (terminal Kampung Rambutan) banyak polisi," kata Rahma.

Baca juga:
Modal Penjaja Jasa Tukar Receh Jalanan Bisa Capai Rp 500 Juta
BI Catat Penukaran Uang Jelang Lebaran Sudah Capai Rp172,8 Triliun
Bank Indonesia Layani Penukaran Uang di 15 Rest Area Tol Trans Jawa, Cek Jadwalnya
Ramainya Penukaran Uang di Malang, Warga Rela Antre Sedari Subuh
Ada Aksi 22 Mei, BI Hentikan Sementara Layanan Penukaran Uang

(mdk/rnd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.