WALHI Sebut Banyak Pulau di Sumsel Tenggelam Akibat Perubahan Iklim
Pada tahun ini, diprediksi ada empat pulau lagi yang terancam tenggelam, yakni Pulau Burung, Pulau Kalong, Pulau Kelentit dan Pulau Keramat.
Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) menyebut banyak pulau di Sumatera Selatan hilang atau terancam tenggelam akibat perubahan iklim. Bencana alam akan menyusul terjadi karena rusaknya alam.
Direktur Eksekutif WALHI Sumsel M Hairul Sobri menjelaskan, pulau hilang atau tenggelam itu lantaran terjadi penurunan tanah dan kenaikan air laut. Pada 2019, ada dua pulau yang hilang, yakni Pulau Betet dengan ketinggian tanah -1 (minus satu) mdpl dan Pulau Gundul -3 (minus tiga) mdpl.
Pada tahun ini, diprediksi ada empat pulau lagi yang terancam tenggelam, yakni Pulau Burung, Pulau Kalong, Pulau Kelentit dan Pulau Keramat.
"Secara keseluruhan setiap tahun air terus merendam pulau saat tengah pasang. Lalu terjadi penurunan tanah dan kenaikan air laut, akibatnya banyak pulau di Sumsel yang hilang," ungkap Hairul, Selasa (14/1).
Dikatakan, pemanasan global dipengaruhi mencair es di kutub utara sebanyak 3,3 milimeter dalam dua tahun terakhir. Perubahan iklim membuat peningkatan suhu 0,39 derajat dan rata-rata suhu udara di Sumsel 37 derajat.
Menurut dia, peningkatan suhu udara itu akibat penggunaan fosil sebagai bahan bakar, kebakaran hutan dan lahan juga meningkatkan emisi serta menurunkan permukaan rawa. Begitu juga dengan penggunaan pupuk kimia yang menurunkan sedimen tanah dan rusaknya DAS (daerah aliran sungai).
"Belum lagi banjir dan longsor akibat alam rusak, air tak dapat dibendung saat hujan dan langsung kering atau hilang saat kemarau. Di daerah dataran tinggi seperti Bukit Barisan juga terjadi, artinya sudah sangat parah," pungkasnya.
(mdk/ray)