Ustaz yang diduga gabung ISIS dikenal tak melenceng saat ceramah
Menurut warga, WTV merupakan ustaz karena sering memberikan ceramah atas undangan dari masyarakat.
Direktorat Intelijen dan Keamanan (Dit Intelkam) Polda Riau mensinyalir satu keluarga di Pekanbaru berangkat ke Syria dan bergabung dengan jaringan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Mereka adalah WTB dan istrinya YB bersama anaknya Mj.
Menurut warga, WTV merupakan ustaz karena sering memberikan ceramah atas undangan dari masyarakat.
"Beliau (WTB), sering diundang untuk memberikan ceramah di masjid," ujar Ketua RT 02 RW 10 kelurahan Delima kecamatan Tampan kota Pekanbaru bernama Mustofa Lubis pada sejumlah wartawan, selasa (7/7).
Namun, kata Mustofa, saat memberikan ceramah WTB tidak pernah melenceng dari kaidah agama Islam, dan tidak menjurus ke arah radikalisme. "Tidak ada menjurus ke hal-hal tertentu, seperti ceramah biasa saja," kata Mustofa.
Bahkan, lanjut Mustofa, WTB yang kerap disapa ustaz Wafit dikenal sebagai sosok pria yang ramah dengan tetangga dan aktif dalam lingkungan serta setiap kegiatan masyarakat.
"Umurnya diperkirakan 50 tahun, pribadinya santun serta sangat antusias dengan kegiatan keagamaan," terang Mustofa. Dia tak menduga akhirnya WTB berangkat ke Syria dan disinyalir bergabung dengan ISIS.
Ustaz Wafit juga tidak sendirian, dia mengajak anak perempuannya inisial Mj yang masih berusia 10 tahun dan istrinya YB.
Sementara itu, untuk memutus mata rantai jaringan tersebut di Riau, Direktorat Bimbingan Masyarakat Polda Riau melakukan pendekatan dan penggalangan dengan tokoh agama dan masyarakat.
"Kami mengajak dan mengimbau kepada elemen masyarakat, tentang ideologi pancasila yang benar, dan agama islam yang benar menurut tuntunannya, yang diajarkan Rasulullah," ujar Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo.
Saat ditanya sejauh mana pendekatan terhadap masyarakat tersebut, Guntur mengatakan melalui Dir Binmas sudah melakukan sosialisasi bersama tokoh agama dan masyarakat.
"Ya. Saat sosialisasi di , mereka komitmen menolak kehadiran paham ISIS di Riau. Termasuk juga kegiatan radikal yang dibentuk oleh kelompok tertentu, itu ditolak oleh masyarakat, karena itu lebih banyak mendatangkan musibah daripada manfaatnya," jelas Guntur.
Direktorat Bimbingan Masyarakat Polda Riau Kombes Pol Dr Sugiono kepada merdeka.com mengatakan, pihaknya melakukan sosialisasi di Masjid Agung An-Nur Pekanbaru dan Masjid Nurul Iman Desa Balekan Kandis kabupaten Siak.
"Para pimpinan pondok pesantren , tokoh tokoh masyarakat berkomitmen untuk tidak terlibat dalam organisasi radikal dan anti pancasila," ujar Kombes Sugiono.
Bahkan, kata Sugiono, Ustaz budiman selaku ketua BAZ kandis kabupaten Siak memberikan tanggapan positif serta mendukung program tersebut dan mengharapkan polisi dan pemerintah daerah harus hadir di tengah tengah masyarakat untuk menangkal paham-paham radikal yang membahayakan bagi masyarakat dan negara.
"Tokoh agama dan masyarakat mengharapkan kehadiran pemerintah daerah dan polisi untuk lebih intens dalam menangkal paham radikal tersebut," pungkas Sugiono.(mdk/hhw)