Uskup Agung Jakarta: Konflik horisontal akibat tekanan hidup
Sifat komunalisme juga tumbuh kuat di masyarakat dengan melihat orang yang bukan kelompoknya sebagai musuh.
Sering terjadinya konflik horisontal di beberapa wilayah Indonesia akhir-akhir ini dinilai akibat dari kurangnya kesadaran dalam masyarakat dan tekanan hidup yang begitu besar di negara ini.
Menurut Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo, konflik horisontal memiliki latar belakang masalah yang sangat kompleks, salah satunya rasa ketidakadilan dalam masyarakat.
"Tetapi salah satu sumbernya adalah rusaknya kepercayaan masyarakat," kata Suharyo kepada wartawan di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta, Jumat (16/11).
Suharyo juga mengatakan, saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia sudah tidak lagi memiliki rasa saling percaya antarsesama.
"Di balik itu semua, rupanya ada penyakit sosial yang disebut komunalisme, yaitu berfikir secara sakit," papar dia.
Dia menjelaskan, komunalisme adalah cara berfikir manusia secara tidak wajar. "Misalnya saya menganggap, orang atau kelompok yang tidak termasuk dalam kelompok saya adalah musuh saya," tuturnya.
Untuk itu, lanjut dia, kesadaran dan kebersamaan dalam bermasyarakat sangat dibutuhkan untuk menghindari konflik horisontal. "Kepercayaan masyarakat harus terus kita tingkatkan," tandasnya.(mdk/bal)